Misbach; Haji Kok Komunis?



"…Agama berdasarkan sama rata sama rasa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa hak persamaan untuk segenap manusia dalam dunia tentang pergaulan hidup, tinggi dan hinanya manusia hanya tergantung atas budi kemanusiaannya...."

HM Misbach


Banyak yang bilang komunis itu pasti atheis, tidak percaya dengan adanya tuhan. Anggapan itu tidak sekoyong-konyong hadir tentunya. Ada satu sistem, ada satu penguasa sistem yang mengendalikan itu. Kalau kata Lenin, penguasa infrastruktur akan menguasai suprastruktur (dalam hal ini opini rakyat). Tentu saya tidak perlu menjawab, siapa si penguasa tersebut. Dari sejarah tragedi 1965, para pembaca sudah bisa menjawabnya sendiri.
Ternyata, anggapan bahwa komunis itu perlahan mulai patah. Atheis adalah ideologi agama, sementara komunis adalah ideologi ekonomi politik. Ideologi itu jelas berbeda. Makanya, kita sering dengar Tan Malaka sering mengucapkan, yang kira-kira begini bunyinya: "Di depan Tuhan, aku beragama. Di depan kalian (manusia), aku adalah seorang komunis."
Adalah Haji Mohammad Misbach yang menjadi fakta konkrit untuk membantah doktrin palsu tersebut. Haji Misbach atau yang lebih dikenal dengan Haji Merah adalah seorang tokoh pergerakan Islam. Haji yang lahir pada 1876 ini dilahirkan di Kauman, di sisi barat alun-alun utara, persis di depan keraton Kasunanan dekat Masjid Agung Surakarta. Semasa kecil, dia bernama Ahmad, lalu berganti nama menjadi Darmodiprono setelah menikah. Usai menunaikan ibadah haji, barulah dia dikenal sebagai Haji Mohamad Misbach.
Bibit relijius tidak hadir begitu saja di dalam diri haji yang wafat pada 1926 ini. Diketahui, ayahnya adalah seorang pejabat keagamaan selain juga seorang pedagang batik yang kaya raya. Pada usia sekolah, dia ikut pelajaran keagamaan dari pesantren, selain di sekolah bumiputera "Ongko Loro".
Mendapatkan pendidikan berbasis pesantren serta lingkungan keraton Surakarta menjadikan Misbach memilih jalan menjadi seorang Mubaligh. Seiring perjalanan hidupnya, ia kepincut dengan ideologi komunis yang sangat berpengaruh pada era perjuangan pembebasan penjajahan kala itu. Karena itu, meski orang tunya menjabat sebagai pejabat keagamaan keraton, hal tersebut tidak membuat Misbach takut untuk menyuarakan suara wong cilik.
Perkenalan Misbach dengan dunia aktivis menarik minatnya untuk mulai melibatkan diri secara penuh dengan bergabung dalam Inlandsche Journalisten Bond (IJB) bentukan Mas Marco Kartodikromo pada tahun 1914. Setahun kemudian, ia menerbitkan surat kabar Medan Moeslimin, sebagai koran perjauangannya. Dan aktif menyuarakan suara rakyat serta melawan kolonialisme dengan pena jurnalisme.
Tahun 1917, ia menerbitkan kemudia surat kabar Islam Bergerak. Setahun kemudian, Misbach bergabung dengan Tentara Kanjeng Nabi Muhammad. Pada tahun ini pula, tepatnya 10 Juli, ia membentuk Sidik Amanat Tableg Vatonah (SATV).
Semakin giat mengorganisir dan melawan penjajah, pada tanggal 7 Mei 1919, ia akhirnya ditangkap. Ini setelah ia menggambar kartun di Islam Bergerak yang isinya menyinggung kapitalis Belanda dan Pakubuwono X. Tapi, kemudia dibebaskan pada 22 Oktober 1919.
Tak sekali itu saja, pada tanggal 16 Mei 1920, ia kembali ditangkap dan dipenjarakan di Pekalongan selama 2 tahun 3 bulan. Keluar dari penjara, ia semakin garang. Tepat tahun 1922, ia memutuskan keluar dari Muhammadiyah. Pasalnya, ia menilai kedua organisasi itu dianggap mandul dan bersikap kooperatif dengan pemerintah
Mei 1923, ia kembali muncul dan memproklamirkan SI Merah/PKI. Karena keberaniannya itu, tanggal 20 Oktober 1923, ia kembali dijebloskan ke penjara dengan tuduhan terlibat dalam aksi-aksi pembakaran bangsal, penggulingan kereta api, pemboman dan lain-lain. Tak sampai situ, Juli 1924, si Haji Merah kembali ditangkap dan dibuang ke Manokwari dengan tuduhan mendalangi pemogokan-pemogokan dan teror-teror di Surakarta dan sekitarnya.

Pergerakan Islam
Pertanyaan mendalamnya, kenapa akhirnya Haji Misbach memilih untuk menjadi seorang muslim yang komunis? Perbedaan dinamika sosial Islam di Yogya dan Surakarta masa itu menjadi penyebab utamanya.
Seperti diketahui, di Yogya, Muhammadiyah yang didirakan oleh KH Ahmad Dahlan pada 1912 di segera menjadi sentral kegiatan kaum muslimin yang saleh yang kebanyakan berlatar belakang keluarga pegawai keagamaan Sultan. Ayah Dahlan adalah chatib amin Masjid Agung dan ibunya putri penghulu (pegawai keagamaan kesultanan) di Yogya. Para penganjur Muhammadiyah umumnya anak-anak pegawai keagamaan. Kala itu birokrat keagamaan umumnya adalah alat negara sehingga wewenang keagamaannya tidak berasal dari kedalaman pengetahuan tentang Islam tetapi karena jabatannya. Meskipun mereka berhaji dan belajar Islam, masih kalah wibawa dibandingkan para kiai yang pesantrennya bebas dari negara. Kendati demikian, reformisme Muhammadiyah berhasil menyatukan umat Islam yang terpecah-pecah. Tablig-tablignya, kajian ayat yang dijelaskan dengan membacakan dan menjelaskan maknanya di masjid-masjid, pendirian lembaga pendidikan Islam, membangunkan keterlenaan umat Islam. Mereka tumbuh menjadi pesaing tangguh misionaris Kristen dan aktivis sekolah-sekolah bumiputera yang didirikan pemerintah.
Nah, lain halnya dengan di Surakarta, kala itu belum ada pengaruh sekuat Dahlan dan Muhammadiyah. Ini karena di Surakarta sudah ada sekolah agama modern pertama di Jawa, Madrasah Mamba'ul Ulum yang didirikan patih R. Adipati Sosrodiningrat (1906). Selain itu, Sarekat Islam (SI) juga sudah lebih dulu berkiprah sebagai wadah aktivis pergerakan Islam. Di Surakarta, pegawai keagamaan yang progresif, kiai, guru-guru Al-Quran, dan para pedagang batik mempunyai forum yang berwibawa, Medan Moeslimin. Di situlah pendapat mereka yang kerap berbeda satu sama lain tersalur. Kelompok ini menyebut diri "kaum muda Islam".
Dalam pergerakan Islam Surakarta dan Yogya terdapat perbedaan mencolok. Di Yogya, gerakan Islam tidak hanya reformis, tapi juga modernis. Sementara di Surakarta, pergerakan islamnya lebih revolusioner. Tidak hanya berdiri di atas mimbar masjid saja. Pasalnya, kegiatan keislaman di Surakarta banyak dipengaruhi kiai progresif, seperti Kiai Arfah dan KH Muhammad Adnan.
Saking derasnya demokrasi pemikiran, perpecahan kelompok Islam di Surakarta tak bisa terelakkan. Berawal dari artikel Djojosoediro di surat kabar Djawi Hisworo, yang mana pemimpin redaksinya adalah Martodharsono. Tulisan tersebut dianggap menyingung dan dianggap liberal oleh kalangan ortodoks.
Sarekat Islam, sebagai organisasi Islam terbesar kala itu, merasa wajib untuk melakukan pembelaan. Untuk itu, pada awal Februari 1918, Tjokroaminoto telah membentuk apa yang disebut Tentara Kandjeng Nabi Mohammad (TKNM) untuk “mempertahankan kehormatan Islam, Nabi, dan Kaum Muslimin”.
Pembentukan TKNM oleh Tjokroaminoto inilah yang kemudian mencuatkan nama Misbach sebagai mubaligh vokal. Misbach lalu menyikapi dengan segera membentuk perkumpulan tablig reformis bernama Sidik Amanat Tableg Vatonah (SATV) untuk memperkuat “kebenaran dan memajukan Islam”. Ia menyebar seruan tertulis menyerang Martodharsono serta mendorong terlaksananya rapat umum dan membentuk subkomite TKNM. Segeralah beredar cerita, Misbach akan berhadapan dengan Martodharsono di podium.
Komunitas yang dulunya kurang greget menyikapi keadaan itu tiba-tiba menjadi dinamis. Kaum muslimin Surakarta berbondong-bondong menghadiri rapat umum di lapangan Sriwedari, pada 24 Februari 1918 yang konon dihadiri 20.000-an orang. Tjokroaminoto mengirim Haji Hasan bin Semit dan Sosrosoedewo (penerbit dan redaktur jurnal Islam Surabaya, Sinar Islam), dua orang kepercayaannya di TKNM. Waktu itu terhimpun sejumlah dana untuk pengembangan organisasi ini. Muslimin Surakarta bergerak proaktif menjaga wibawa Islam terhadap setiap upaya penghinaan terhadapnya. Inilah awal perang membela Islam dari "kaum putihan" Surakarta.
Belakangan, muncul kekecewaan jamaah TKNM ketika Tjokro tiba-tiba saja mengendurkan perlawanan kepada Martodharsono dan Djawi Hisworo setelah mencuatnya pertikaian menyangkut soal keuangan dengan H Hasan bin Semit. Buntutnya, H Hasan bin Semit keluar dari TKNM. Beredar artikel menyerang petinggi TKNM. Muncul statemen seperti "korupsi di TKNM dianggap sudah menodai Nabi dan Islam".
Dalam situasi itu, Misbach muncul menggantikan Hisamzaijni, ketua subkomite TKNM dan menjadi hoofdredacteur (pemimpin redaksi) Medan Moeslimin. Artikel pertamanya di media ini berjudul Seroean Kita. Dalam artikel itu, ia menyajikan gaya penulisan yang khas, yang kata Takashi, menulis seperti berbicara dalam forum tablig. Ia mengungkapkan pendapatnya, bergerak masuk ke dalam kutipan Al-Quran kemudian keluar lagi dari ayat itu. "Persis seperti membaca, menerjemahkan, dan menerangkan arti ayat Al-Quran dalam pertemuan tablig." Sikap Misbach ini segera menjadi tren, apalagi kemudian secara kelembagaan perkumpulan tablig SATV benar-benar eksis melibatkan para pedagang batik dan generasi santri yang lebih muda.
SATV menyerang para elite pemimpin TKNM, kekuasaan keagamaan di Surakarta, menyebut mereka bukan Islam sejati, tetapi "Islam lamisan", "kaum terpelajar yang berkata mana yang bijaksana yang menjilat hanya untuk menyelamatkan namanya sendiri." Dasar keyakinan SATV dengan Misbach sebagai ideolognya, "membuat agama Islam bergerak". Misbach kondang di tengah muslimin bukan sekadar karena tablignya, melainkan ia menjadi pelaku dari kata-kata keras yang dilontarkannya di berbagai kesempatan. Ia dikenal luas karena perbuatannya "menggerakkan Islam": menggelar tablig, menerbitkan jurnal, mendirikan sekolah, dan menentang keras penyakit hidup boros dan bermewah-mewah, dan semua bentuk penghisapan dan penindasan.
Ada dua perbedaan SATV dibanding Muhammadiyah. Pertama, Muhammadiyah menempati posisi strategis di tengah masyarakat keagamaan Yogya, sedangkan SATV adalah perhimpunan muslimin saleh yang merasa dikhianati oleh kekuasaan keagamaan, manipulasi pemerintah, dan para kapitalis. Kedua, militansi para penganjur Muhammadiyah bergerak atas dasar keyakinan bahwa bekerja di Muhammadiyah berarti hidup menjadi muslim sejati. Sedangkan militansi SATV berasal dari rasa takut untuk melakukan manipulasi, dan keinginan kuat membuktikan keislamannya dengan tindakan nyata. Di mata pengikut SATV, muslim mana-pun yang perbuatannya mengkhianati kata-katanya berarti muslim gadungan.
Lalu apa pandangan politik Haji Merah? Misbach memiliki posisi yang unik dalam sejarah tanah air. Namanya sering disandingkan dengan Semaun, Tan Malaka, atau golongan kiri lainnya. Di kalangan gerakan Islam, memang namanya nyaris tak pernah disebut karena berpaham komunis. Menurutnya, Islam dan komunisme tidak selalu harus dipertentangkan, Islam seharusnya menjadi agama yang bergerak untuk melawan penindasan dan ketidakadilan.
Marco Kartodikromo, seorang wartawan yang juga seorang aktivis kebangkitan nasional asal Hindia-Belanda pada saat itu, berkisah tentang Misbach:
".. Di Pemandangan Misbach tidak ada beda di antara seorang pencuri biasa dengan orang yang dikata berpangkat, begitu juga di antara rebana dan klenengan, di antara bok Haji yang bertutup muka dan orang bersorban cara Arab dan berkain kepala cara Jawa. Dan sebab itu dia lebih gemar memaki kain kepala dari pada memakai peci Turki atau bersorban seperti pakaian kebanyakan orang yang disebut Haji".
Apa yang tersirat dari tulisan Marco adalah populisme Misbach. Populisme seorang Haji, sekaligus pedagang yang sadar akan penindasan kolonialisme Belanda dan tertarik dengan ide-ide revolusioner yang mulai menerpa Hindia pada zaman itu.
Misbach langsung terjun melakukan pengorganisiran di basis-basis rakyat. Membentuk organisasi dan mengorganisir pemogokan ataupun rapat-rapat umum/vergadering yang dijadikan mimbar pemblejetan kolonialisme dan kapitalisme. Orang menggambarkan dirinya sebagai sosok yang tak segan bergaul dengan anak-anak muda penikmat klenengan (musik Jawa) dengan tembang yang sedang populer. Satu tulisan lain tentang Misbach menyebutkan, di tengah komunitas pemuda, dia menjadi kawan berbincang yang enak. Sementara di tengah pecandu wayang orang, dia lebih dihormati ketimbang direktur wayang orang.
"... di mana-mana golongan Rajat Misbach mempoenjai kawan oentoek melakoekan pergerakannya. Tetapi didalem kalangannya orang-orang jang mengakoe Islam dan lebih mementingkan mengoempoelken harta benda daripada menolong kesoesahan Rajat, Misbach seperti harimau didalem kalangannya binatang-binatang ketjil. Kerna dia tidak takoet lagi menyela kelakoeannja orang-orang yang sama mengakoe Islam tetapi selaloe mengisep darah temen hidoep bersama."
Misbach sangat antikapitalis. Siapa yang secara kuat diyakini menjadi antek kapitalis yang menyengsarakan rakyat akan dihadapinya melalui artikel di Medan Moeslimin atau Islam Bergerak. Tak peduli apakah dia juga seorang aktivis organisasi Islam. Berdamai dengan pemerintah Hindia Belanda adalah jalan yang akan dilawan dengan gigih. Maka kelompok yang anti politik, anti pemogokan, secara tegas dianggap berseberangan dengan misi keadilan.
Misbach membuat kartun di Islam Bergerak edisi 20 April 1919. Isinya menohok kapitalis Belanda yang menghisap petani, mempekerja-paksakan mereka, memberi upah kecil, membebani pajak. Residen Surakarta digugat, Paku Buwono X digugat karena ikut-ikutan menindas. Retorika khas Misbach, muncul dalam kartun itu sebagai "suara dari luar dunia petani". Bunyinya, "Jangan takut, jangan kawatir". Kalimat ini memicu kesadaran dan keberanian petani untuk mogok. Ekstremitas sikap Misbach membuat dia ditangkap, 7 Mei 1919, setelah melakukan belasan pertemuan "kring" (subkelompok petani perkebunan). Tapi akhirnya Misbach dibebaskan pada 22 Oktober sebagai kemenangan penting Sarekat Hindia (SH), organisasi para bumiputera.
Misbach menegaskan kepada rakyat "jangan takut dihukum, dibuang, digantung", seraya memaparkan kesulitan Nabi menyiarkan Islam. Misbach pun sosok yang selain menempatkan diri dalam perjuangan melawan kapitalis, ia meyakini paham komunis. Misbach mengagumi Karl Marx. Marx di mata Misbach berjasa membela rakyat miskin, mencela kapitalisme sebagai biang kehancuran nilai-nilai kemanusiaan. Agamapun dirusak oleh kapitalisme sehingga harus dilawan dengan historis materialisme.
Pada konggres PKI tanggal 4 Maret 1923 yang dihadiri 16 cabang PKI, 14 cabang SI Merah dan beberapa perkumpulan serikat komunis, Misbach memberikan uraian mengenai relevansi Islam dan komunisme dengan menunjukkan ayat-ayat Al-Qur’an serta mengkritik pimpinan SI Putih yang munafik dan menjadikan Islam sebagai selimut untuk memperkaya diri sendiri. Pada tahun 1923 pula, dia menulis kritikannya terhadap Tjokroaminoto di Medan Moeslimin dengan judul “Semprong Wasiat: Disiplin Organsisi Tjokroaminoto Menjadi Racun Pergerakan Rakyat Hindia”.
Kekecewaannya terhadap lembaga-lembaga Islam yang tidak tegas membela kaum dhuafa, membuat dia memilih ikut Perserikatan Kommunist di Indie (PKI) ketika CSI (Central Sarekat Islam) pecah melahirkan PKI/SI Merah, bahkan mendirikan PKI afdeling Surakarta. Dia pun muncul sebagai pimpinan PKI di Surakarta, yang kemudian mengubah surat kabar Islam Bergerak menjadi Ra’jat Bergerak dan penyatuan secara de fakto organ PKI Yogyakarta berbahasa Melayu, Doenia Baroe, ke dalam Ra’jat Bergerak pada September 1923. Berjuang melawan kapitalisme, tak membuat dia tidak menegakkan Islam. Baginya, perlawanan terhadap kapitalis dan pengikutnya sama dengan berjuang melawan setan.
Masa pembuangan
Bulan Mei 1919 akibat pemogokan-pemogokan petani yang dipimpinnya, Misbach dan para pemimpin pergerakan lainnya di Surakarta ditangkap. Pada 16 Mei 1920, ia kembali ditangkap dan dipenjarakan di Pekalongan selama 2 tahun 3 bulan. Pada 22 Agustus 1922 dia kembali ke rumahnya di Kauman, Surakarta. Maret 1923, ia sudah muncul sebagai propagandis PKI/SI Merah dan berbicara tentang keselarasan antara paham Komunis dan Islam. Pada tanggal 20 Oktober 1923, Misbach kembali dijebloskan ke penjara dengan tuduhan terlibat dalam aksi-aksi revolusioner yaitu pembakaran bangsal, penggulingan kereta api, pemboman dan lain-lain. Bulan Juli 1924 ia ditangkap dan dibuang ke Manokwari dengan tuduhan mendalangi pemogokan-pemogokan dan teror-teror/sabotase di Surakarta dan sekitarnya. Walaupun bukan yang pertama diasingkan tapi ia-lah orang yang pertama yang sesungguhnya berangkat ke tanah pengasingan di kawasan Hindia sendiri.
Terkait dengan "teror-teror" yang terjadi di Jawa tersebut, Misbach tetap dipercaya sebagai otaknya. Dia ditangkap. Dalam pengusutan sejumlah fakta memberatkannya meskipun belakangan para saksi mengaku memberi kesaksian palsu karena iming-iming bayaran dari Hardjosumarto, orang yang "ditangkap" bersamanya. Hardjosumarto sendiri juga mengaku menyebarkan pamflet bergambar palu, arit, dan tengkorak, membakar bangsal sekatenan, dan mengebom Mangkunegaran. Namun Misbach tetap tidak dibebaskan. Dia dibuang ke Manokwari, Papua, beserta dengan istri dan tiga anaknya. Ternyata pembuangan tidak membuatnya berhenti bergerak, dia masih sempat mendirikan Sarekat Rakyat cabang Manokwari, yang anggotannya tidak pernah lebih dari 20 karena gangguan Polisi Belanda. Selain itu, dia juga menyusun artikel berseri "Islamisme dan Komunisme". Medan Moeslimin kemudian memuat artikel tersebut,
"…agama berdasarkan sama rata sama rasa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa hak persamaan untuk segenap manusia dalam dunia tentang pergaulan hidup, tinggi dan hinanya manusia hanya tergantung atas budi kemanusiaannya. Budi terbagi tiga bagian: budi kemanusiaan, budi binatang, budi setan. Budi kemanusiaan dasarnya mempunyai perasaan keselamatan umum; budi binatang hanya mengejar keselamatan dan kesenangan diri sendiri; dan budi setan yang selalu berbuat kerusakan dan keselamatan umum."
Ditengah ganasnya alam di tempat pembuangannya, dia terserang malaria dan meninggal di pada 24 Mei 1926 dan dimakamkan di kuburan Penindi, Manokwari, di samping kuburan istrinya. Tjipto Mangunkusuma dalam surat kabar Panggoegah, 12 Mei 1919 melukiskan keberanian Misbach dalam melawan kolonialisme Belanda sebagai "seorang ksatria sejati" yang mengorbankan seluruh hidupnya untuk pergerakan. (cho)

Membangun Jaringan Usaha

Anda mau bangun usaha. Link atau jaringan adalah salah satu kunci utama dalam pembangunan usaha. Jaringan itu ibarat kunci untuk kemajuan sebuah bisnis. Suatu usaha akan mudah dengan berkembangan kuantitas dan kualitas dari jaringan yang dimiliki.

Karenanya, saat memutuskan serius dalam membangun sebuah bisnis (usaha), kita haruslah memiliki beberapa kiat dalam membangun relasi. Terutama, modal keberanian. Dari keberanian ini nantinya akan menyusul relasi untuk menopang pertumbuhan usaha yang sedang dibangun tersebut.


Berikut catatan dari Pojok Literasi Indonesia, tentang beberapa kiat yang bisa dilakukan untuk terus menguatkan jaringan bisnis kita:

Komunikasi


 Bangunan komunikasi yang baik, merupakan salah satu kunci sukses dalam mengembangkan bisnis. Kata salah seorang teman, relasi tidak cukup hanya sebatas kenal. Tapi juga harus dipelihara. Mempertahankan komunikasi yang intens terhadap para jaringan yang telah bertautan dengan usaha yang kita bangun adalah hal yang sangat penting.

Apalagi, di era digital seperti sekarang, para pelaku bisnis tidak lagi memiliki batasan untuk terkoneksi. Hal ini memungkinkan kita untuk memiliki jaringan kemanapun bahkan tidak menutup kemungkinan sampai pasar internasional. maksimalkan memanfaatkan kemudahan teknologi yang sedang berkembang pesat, untuk mempererat jalinan komunikasi kita dengan rekan bisnis.



Bekerja Sama (Mutualisme)

Dalam dunia Sains dan ilmu pengetahuan alam kita mengenal istilah "Simbiosis mutualisme" atau hubungan yang saling menguntungkan sesama mahluk hidup. Contohnya? Hubungan antara lebah dan bunga. Dalam hubungan tersebut, lebah memperoleh makanan dari bunga berupa sari bunga sementara bunga dibantu oleh lebah dalam proses penyerbukan.

Di dunia bisnis pun juga berlaku hal demikian. Yaitu kedua belah pihak bisa sama-sama saling menguntungkan. Saling membantu jika salah satu relasi sedang membutuhkan, demikian pun sebaliknya. Dengan moto simbiosis mutualisme inilah kita akan terus meluaskan jaringan kita.


Dalam sismbiosis mutualisme, kita juga dituntut untuk memilih jaringan usaha secara selektif. Trust adalah kunci selanjutnya dalam dunia bisnis. Dalam kondisi persaingan (kompetitif) yang luar biasa ini sekrang, biasanya banyak relasi yang menjanjikan keuntungan bla bla bla, namun pada kenyataannya kita hanya menjadi korban. 


Maka relasi yang dapat memberikan dampak positif dan pertumbuhan yang signifikan dalam usaha itulah yang akan kita jadikan sebagai relasi dalam perluasan jaringan. Setidaknya dalam jaringan yang kita bangun selain keuntungan materi yang kita dapat, dalam skala minimal kita juga bisa belajar berbagai macam strategi bisnis yang dijalankan oleh relasi kita.


Miliki karakter Relawan

 
Masih ingat Pilpres kemarin? Pertarungan antara kubu Jokowi dan Prabowo. Nah dalam pertarungan itu ada satu fenomena baru yang muncul di dunia politik kita, yaitu munculnya banyak kelompok relawan. Ini menarik.Lalu apa hubungannya dengan dunia bisnis?

Dalam dunia bisnis bukan berarti kita harus terus-menerus untung dan bersikap bak seorang big boss dengan tidak mau melakukan suatu hal tanpa imbalan. Maka memiliki karakter relawan menjadi sebuah kebutuhan bagi kita yang menggeluti dunia bisnis.


Ketika kita memiliki karakter ini, niscaya banyak relasi bisnis yang akan mempertimbangkan untuk bekerjasama dengan kita. Sebab mereka para relasi kita tentunya akan memiliki satu modal awal jaminan keuntungan yang lebih baik. Setidaknya inilah idiom yang sudah banyak melekat dalam benak para pelaku bisnis “Pebisnis sukses mengawali karirnya lewat satu sikap untuk mau merendahkan diri dan tanpa pamrih dalam membangun usahanya”.


Ulet dan istiqomah


Istiqomah dalam pengertian bahasa artinya tegak lurus. Tetapi dalam konteks ini, kita akan memaknainya sebagai sesuatu yang dilakukan secara terus menerus dan penuh bertanggung jawab. Istiqomah adalah tekun untuk dan tidak membatasi diri kita dalam pergaulan bisnis. Dalam istiqomah pasti ada hal yang kita korbankan apalagi untuk tujuan meluaskan jaringan
 


Contoh Waktu

Disiplin juga menjadi poin penting untuk membangun relasi. Disiplin berkaitan erat dengan waktu. Budaya waktu karet di Indonesia jelas tidak boleh masuk ke dalam dunia bisnis. Karena dunia bisnis sangat berkaitan dengan trust (kepercayaan).

Apa hubungannya? Karena istilah yang sering kita dengan dari enterpreuner adalah 'Time is Money." Karena itu, jangan buang waktu. Ontime. Disiplin, disiplin, disiplin.


Selain menanamkan budaya ontime dan disiplin. Kita juga harus bersedia untuk berkorban waktu demi seorang relasi dan jaringan. Karena disilah seninya membangun jaringan.


Bukankah tadi kita sudah sepakat bahwa kunci dalam membangun bisnis adalah jaringan. Dan bukankah dalam tulisan ini kita juga diminta untuk mempunyai karakter seorang relawan. Maka sebenarnya berkorban waktu demi sebuah jaringan yang luas dalam dunia usaha sejatinya tidaklah soal. Karena dengan jaringan yang luas niscaya pendapatan kita akan bertambah dengan maksimal.


So.. bagaimana apakah kita sudah siap meluaskan bisnis? Jangan takut dan ragu, berani mencoba adalah kunci orang-orang sukses demi masa depan yang lebih baik. Lebih baik mencoba gagal dari pada tidak sama sekali. Semoga kiat-kiat diatas bisa membantu dan bermanfaat. (Edi)

AHOK, Gubernur Yang Anti Pengendara Motor

Tulisan ini berawal dari salah seorang teman yang bertanya apa yang terlintas saat mendengar nama Ahok. Kebetulan Kamis (26/2), tepat pemilik nama lengkap Basuki Tjahja Purnama itu memimpin Jakarta selama 100 hari. Kontan saja, terlintas kebijakan teranyar Ahok saat baru dilantik, yakni melarang penunggang kuda besi melintas jalan protokol (mulai dari Jalan MH Thamrin sampai Jalan Merdeka).

Pasalnya, penulis sempat disetop polisi karena salah jalur, dan masuk ke jalur tersebut. Ceritanya, saat itu mau pergi ke kantor kementrian, jalan yang biasa ditempuh (sebelum ada peraturan tersebut) adalah lewat monas, karena memang dekat. Ternyata, baru sadar ternyata jalan sekitaran itu sudah dilarang untuk diinjak oleh motor. Kontan saja, polisi yang sedang berjaga langsung meniup pluit, memberhentikan.

Untung, kartu pers terpampang jelas di kantong depan kemeja. Sehingga polisi itu hanya senyum dan bertanya mau kemana, lalu mempersilahkan memutar arah. Kalau tidak, 5 lembar uang merah (Rp 500 ribu) harus dibayar sebagai sanksinya.

Terlepas dari itu, lebijakan kontroversial Ahok itu jelas tidak lahir tiba-tiba. Kemacetan akut yang terjadi di ibukota negara itu menjadi salah satu alasannya. Macet memang sudah meresahkan sekali. Apalagi, berita terbaru, Jakarta mendapat prestasi sebagai kota termacet di dunia. Atas alasan macet yang tidak bisa diselesaikan itu, pengendara motor jadi korbannya. Si Ahok memang anti pengendara motor tampaknya. Mungkin karena si gubernur tidak perlu menunggangi roda dua saat ke kantor. Padahal logikanya, mobil lebih besar dari sepeda motor. Kenapa bukan mobil saja yang dilarang melintas kawasan itu?

Yang lebih menakutkan lagi, pelarangan sepeda motor menginjak jalan tersebut bakal terus meluas. Seperti sempat disampaikan Kadishub DKI, nantinya jalan Kuningan, Jalan Jend Sudirman, Gatot Soebroto juga dilarang untuk diinjak ban motor. Tapi kebijakan itu akan diaplikasikan saat moda transportasi umum dirasa sudah cukup.

Akibat kebijakan saat ini saja, beberapa pekerja yang menggunakan motor sudah terkena imbasnya dengan harus mengambil jalan mutar-mutar. Belum lagi, kalau tidak terlalu hafal jalan, berujung pada nyasar. Hal ini jelas merugikan pekerja yang menggunakan kendaraan motor, seperti pengantar paket, tukang ojek, juga awak media yang harus mobile dengan roda dua. Singkatnya, peraturan ini melanggar HAM, melanggar hak mobilitas rakyat. Memangnya, pengendara motor tidak bayar pajak?

Atas dasar itu, Indonesia Traffic Watch (ITW) akhirnya menggugat Peraturan Gubernur DKI Jakarta Nomor 195 Tahun 2014 tentang Pembatasan Lalu Lintas Sepeda Motor itu ke Mahkamah Agung. ITW meminta Mahkamah menguji materi peraturan yang dikeluarkan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama itu. ITW menilai aturan yang dikeluarkan Ahok bertentangan dengan Pasal 133 ayat 2c Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Pasal itu mengatur pembatasan kendaraan bermotor pada koridor, jalan, dan waktu tertentu. Tapi dalam peraturan Ahok itu, kendaraan bermotor bukan dibatasi, tapi dilarang 24 jam.

ITW juga menilai kebijakan pelarangan sepeda motor sangat diskriminatif.  Dan menganggap Ahok arogan. Karena, akibat kebijakan tersebut, jutaan warga Jakarta yang sering mengendarai sepeda motor di jalan tersebut harus mengalami kerugian. Sayang beribu sayang, si Ahok memang arogan. Ia santai saja menanggapi adanya gugatan itu. Ia berdalih, pelarangan itu merupakan bagian dari upaya pemerintah Jakarta mendorong warga agar mau menggunakan sarana transportasi umum.

Putusan atas gugatan itu memang belum keluar. Tapi, secara jelas kita bisa melihat bahwa pemerintah DKI sedang frustasi. Pemerintah DKI gagal mengalasi masalah utama penyebab kemacetan, yang lebih disebabkan dengan tidak adanya kontrol pada penjualan kendaraan, pembangunan hutan beton, dan lainnya. Karena itu, pemerintah DKI mengeluarkan kebijakan yang melanggar HAM sedari masih dalam pikiran tersebut. (cho)

Si Bima Yang Berpena Tajam

Apa yang terlintas dari kepala anda saat saya sebut nama Bima? Tokoh pewayangan kah? Anda tidak salah. Tapi Bima yang kumaksud kali ini adalah Soekarno.

Iya, banyak orang yang tak tahu jika Soekarno pernah memakai nama Bima. Nama ini digunakan Sang Proklamator tersebut sebagai nama penanya saat menjadi jurnalis. Benar, pada masa mudanya, tahun 1920-an, Bung Karno sempat menekuni dunia jurnalistik. Bahkan, tulisan beliau sangat tajam dan menggigit kala itu.

Ia menerbitkan tulisan-tulisan pertamanya melalui koran Sarekat Islam, Oetoesan Hindia. DI koran itu, Soekarno menulis sekitar 500-an artikel maupun opini. Tulisan-tulisannya sangat tajam menohok kapitalisme, imperialisme, dan kolonialisme. “..hancurkan segera kapitalisme yang dibantu budaknya imperialisme. Dengan kekuatan Islam, Insaallah, itu segera dilaksanakan,” tulis Soekarno di salah satu artikelnya.

Selain melalui Oetoesan Hindia, Soekarno juga sempat menjadi redaksi di koran Bendera Islam. Belakangan, koran ini berganti nama menjadi Fadjar Asia, yang terbit tiga kali seminggu. Koran ini mengambil semboyan: “Melawan Imperialisme Barat! Berjuang untuk Kebebasan Bangsa dan Tanah Air.”

Di tahun 1926, Soekarno mendirikan kelompok studi bernama Algemene Studie Club. Kelompok studi ini punya koran bernama 'Soeloeh Indonesia Muda'. Koran itu dibiayai oleh Soekarno sendiri dari honorariumnya sebagai arsitek. Di koran inilah Soekarno menerbitkan risalahnya yang sangat terkenal, Nasionalisme, Islamisme, dan Marxisme. Di artikel itu Soekarno mengkritik penyakit ‘berpandangan sempit’ dan sektarian di kalangan pergerakan anti-kolonial di Indonesia, kala itu.

Setahun kemudian, Soekarno mendirikan Partai Nasionalis Indonesia (PNI). Bagi Soekarno, PNI adalah alat politik untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Karena itu, PNI mengambil jalan radikal dan non-kooperasi (menolak kerjasama dengan pihak kolonial). Tahun 1928, PNI menerbitkan koran resminya, Persatoean Indonesia. Untuk memulai koran ini, Soekarno mengumpulkan donasi sebesar 500 gulden dari cabang-cabang PNI. Persatoen Indonesia ini menjadi corong PNI untuk berbicara kepada massa-marhaen.

Soekarno dan PNI mengidamkan sebuah pergerakan massa yang sadar akan alasan dan tujuan perjuangannya. Karena itu, untuk menyuluhi kesadaran massa dari onbewust (tidak sadar) menjadi bewust (sadar), peranan koran menjadi vital. “Massa aksi zonder kursus-kursus, brosur-brosur, dan surat kabar, adalah massa aksi yang tidak hidup dan tidak bernyawa,” kata Soekarno.

Beberapa tulisan Soekarno di Persatoean Indonesia antara lain, “Melihat Kemuka…”, “Tempo jang tak Dapat Dikira-kirakan Habisnja”, “Indonesianisme dan Pan Asiatisme”, “Kearah Persatuan, Menjambut Tulisan H.A. Salim”, “Pidato Ir Sukarno pada tanggal 15 September 1929", “Kewajiban Kaum Intelektual terhadap kepada Pergerakan Rakjat”, dan “Soal Pergerakan Wanita”.

Sayang, seiring dengan penangkapan Soekarno dan tokoh-tokoh PNI, koran Persatoean Indonesia juga kena getahnya. Koran ini sempat berhenti terbit. Namun, atas keinginan Soekarno, koran ini terbit kembali dengan meminjam nama ‘Nyonya Soekarno’ alias Inggit Garnasih. Proses penerbitannya dikerjakan oleh Mr Sartono dan kawan-kawan.

Keluar dari penjara, Soekarno tidak berhenti menulis. Dengan penanya, ia kembali menghujam kekuasaan kolonial melalui artikel berjudul “Sendi dan Azas Pergerakan Kemerdekaan Bangsa Indonesia”. Alhasil, karena gerah dengan tajamnya pena Soekarno, penguasa kolonial membredel koran Persatoean Indonesia.

Tahun 1931, sebagian bekas anggota PNI mendirikan partai baru: Partai Indonesia (Partindo). Azas dan garis politik Partindo tidak berbeda jauh dengan PNI. Begitu keluar dari penjara, Soekarno segera bergabung dengan Partindo ini. Di Partindo, pada tahun 1932, Soekarno lagi-lagi menerbitkan koran baru bernama Fikiran Ra’jat. Di koran ini Soekarno bertindak sebagai pemimpin redaksi. Terbit sekali seminggu, koran politik ini mengambil slogan: Kaoem Marhaen! Inilah Madjallah Kamoe!

Soekarno menyebut Fikiran Ra’jat sebagai ‘madjallah politik popoeler”. Alasannya, koran ini memang diperuntukkan untuk pembaca luas di kalangan marhaen. Terutama mereka yang hanya bisa membaca dan menulis. Tidak mengherankan, bahasa yang dipergunakan Fikiran Ra’jat lebih sederhana dan mudah dipahami oleh rakyat jelata.

Edisi pertama Fikiran Ra’jat terbit 15 Juni 1932. Di koran ini, Soekarno banyak menorehkan penananya. Antara lain: “Maklumat Bung Karno kepada Kaum Marhaen Indonesia”, “Demokrasi Politik dan Demokrasi Ekonomi”, “Socio Nationalisme dan Socio Demokrasi”, “Orang Indonesia Tjukup Nafkahnja Sebenggl Sehari”, “Kapitalisme Bangsa Sendiri”, “Djawaban Saja pada Sdr. M. Hatta”, “Sekali lagi, Bukan Banjak Bitjara, Bekerdjalah, tetapi Banjak Bitjara, Banjak Bekerdja”, “Memperingati 50 Tahun Wafatnya Karl Marx”, “Reform Actie dan Doels Actie”, “Bolehkah Sarekat Sekerdja Berpolitik?”, “Marhaen dan Marhaeni, Satu Massa Actie”, “Membesarkan Fikiran Rakjat”, Azas-azas Perdjuangan Taktik”, dan “Marhaen dan Proletar”.

Untuk memperkuat pemahaman rakyat akan isu yang diketengahkan sekaligus menerjang musuh politiknya, Soekarno juga suka membuat karikatur. Hampir setiap edisi Fikiran Ra’jat disertai gambar karikatur. Dan pembuatnya adalah Soekarno sendiri. Ia sering memakai nama samaran: Soemini.
Selain Fikiran Ra’jat, Soekarno juga menerbitkan kembali Soeloeh Indonesia Muda. Namun, berbeda dengan Fikiran Ra’jat, koran Soeloeh Indonesia Moeda lebih diperuntukkan sebagai koran teori. Sasarannya lebih diprioritaskan ke kalangan kaum terpelajar dan pemimpin pergerakan.

Banyak yang menyebut gaya tulisan Soekarno bak gaya penulis pamflet. Pasalnya, setiap artikelnya berisi pembongkaran masalah, akar masalah, dan bagaimana hal itu diselesaikan. Tak hanya itu, ia juga selalu terang-terangan menunjukkan keberpihakan politik, yakni pemihakan terhadap kaum marhaen dan mereka yang tertindas. Kemudian, di hampir semua tulisannya, Soekarno menghajar kapitalisme, imperialisme, dan kolonialisme sebagai akar yang menciptakan ‘kepincangan’ di dalam masyarakat.
Ia juga menggunakan gaya bahasa populer. Ketika menggunakan suatu istilah ilmiah, entah ekonomi, politik, maupun sosial-budaya, ia akan menjelaskan artinya. Dalam tulisan-tulisannya, Soekarno gemar menggunakan perumpamaan-perumpamaan untuk membimbing daya imajinasi pembacanya agar mengerti apa yang dimaksudkannya.

Tulisan-tulisan Soekarno juga kaya dengan data dan literatur. Hal ini, tentu saja, untuk memperkuat dasar analisis dan kesimpulan-kesimpulannya. Selain itu, banyak tulisan Soekarno yang mengandung polemik, baik terhadap penguasa kolonial maupun dengan sesama kaum pergerakan. Dengan sesama kaum pergerakan, Soekarno kerap berpolemik dengan Mohammad Hatta, Haji Agus Salim, dan tokoh-tokoh komunis.

Ada dua goresan pena Soekarno yang sangat terkenal dan paling mengguncang tatanan kolonial, yakni Indonesia Menggugat dan Mencapai Indonesia Merdeka. Indonesia Menggugat ditulis oleh Soekarno di dalam ruang pengap dan lembab penjara Bantjeuy, Bandung, yang diperuntukkan sebagai pidato pembelaan di hadapan pengadilan kolonial.

Sedangkan Mencapai Indonesia Merdeka ditulis oleh Soekarno di tahun 1933, di sebuah tempat bernama Pangalengan, Bandung. Artikel panjang ini berisi 10 bagian (chapter), yang mengupas asal-usul imperialisme di Indonesia dan bagaimana melawannya. Penutup artikel itu membahas mengenai gagasan Indonesia Merdeka. Tak pelak lagi, penguasa kolonial ketar-ketir dengan artikel itu. Alhasil, Soekarno kembali ditangkap dan dibuang ke Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur.

Begitulah, karena goresan penanya yang tajam, Soekarno berulang kali keluar-masuk penjara kolonial. (cho)

Arikel ini disarikan dari  Berdikari Online yang ditulis oleh Rudi Hartono (Pengurus Komite Pimpinan Pusat- Partai Rakyat Demokratik)



Profil Teater ARTery


Pada kesempatan ini, Pojok Literasi Indonesia akan menulis tentang Teater ARTery/. Ini dirasa cukup penting, karena beberapa waktu yang lalu skuad Pojok Literasi berkesempatan untuk mengundang teater yang bermarkas di Lubang Buaya ini ke kantor Pojok Literasi Indonesia.

Berikut kutipan percakapan Pojok Literasi dengan Ketua ARTery/, Dendi Madiya....

Apa arti ARTery/?
ARTery/ berarti pembuluh darah yang mengalirkan darah dari jantung ke seluruh bagian badan; nadi; tempat penyaluran transportasi atau komunikasi yang utama.

Sejarah ARTery/?
ARTery/ adalah ruang berkreatifitas beberapa anak muda pada kesenian. Lahir setelah mendapat tempat berupa rumah milik Bapak H Ahmad Syafawi di Jalan Gaber Cipayung Jakarta Timur. Tumah ini dulunya merupakan sarana pelatihan tenaga kerja wanita (TKW) sebelum mereka keluar negeri.
Muhammad Amin (anggota ARTery/ dan anak kedua dari Bapak Syafawi) sering mengajak beberapa temannya seperti Reza Pahlevi, Fidelis Krus, Didit Aditio, Muhammad Irfansyah, Suprianto untuk berlatih musik di rumah tersebut setelah kegiatan pelatihan TKW berhenti.
Nah, pada sebuah kesempatan, Reza, Fidel, dan Irfan mengajak mereka untuk bertemu dengan saya (Dendi Madiya, yang dulu adalah sutradara Teater Omponk), di Sanggar Seni dan Budaya, Gelanggang olahraga Bekasi. Disini, mereka juga bertemu dengan personil teater omponk lainnya seperti Adek Ceeguk, Emiliy Wandem, Evan Houston, Syahbudin Lail. Mereka semua menunjukkan beberapa lagu yang sudah dikuasai dan mengajak beberapa personil teater omponk itu bergabung.

Terus?
Pada acara Panggung Pinggir Kali-Sastra Kalimalang awal tahun 2013, mereka membawakan puisi 'Aku - Chairil Anwar' dan 'Nyanyian Jiwa - Iwan Fals'. Kami menjadi sering bertemu dan berlatih bersama. Kesepakat akhirnya, kami ganti nama Teater Omponk menjadi teater ARTery/.

Pengalamannya pentasnya gimana nih?
Pentas perdana ARTery/ adalah monolog Adek Ceeguk 'Segenggam Tanah di Mulutku' pada event Dramakalafest di London School Public of Relations Jakarta, 21 Februari 2013. Lalu pada pertunjukan teater 'Struktur Rumah Tangga Kami' pada Festival Teater Kota Administrasi Jakarta Timur (FTJT), 28 Juni 2013. Pada tahun 2014, ARTery/ lebih banyak bergerak di bidang performance art, terutama dengan komunitak PADJAK (performance art di Jakarta).

Nah, kalau naskah terbaru Tukang kacamata dan Penggemar Elvis itu insiprasinya darimana?
Naskah Tukang Kacamata dan Penggemar Elvis yang mengangkat tema pembantaian pada huru hara politik di tahun 1965. Naskah itu terinspirasi dari fil Jagal dan Senyap karya Joshua Oppenheimer. Naskah ini dipentaskan pertama kalinya di Reboan Jaker, 18 Februari 2015. (cho)

Penasaran dengan salah satu penampilan Teater ARTery/ ?????
Klik beritanya disini.

Harga Kebutuhan Melambung Naik

Akhir-akhir ini, harga kebutuhan makin melambung naik. Harga beras misalnya, melonjak sampai 30%. Hal ini membuat masyarakat kelimpungan dan resah takut kelaparan. Tak hanya itu, harga kebutuhan pokok lainnya juga ikut terseret naik. Kita bahas satu-satu.

Beras
Kenaikan harga beras yang sudah mencapai 30 persen ini sangat mengkhawatirkan. Pasalnya, tahun-tahun sebelumnya, kenaikan setinggi ini belum pernah terjadi. Saat ini, harga kebutuhan pokok masyarakat Indonesia ini, naik hingga Rp 12.000 per Kg nya untuk kualitas menengah, dari sebelumnya hanya Rp 9.000. Untuk kualitas premium, harganya sudah mencapai Rp 15.000 per kg dari sebelumnya Rp 11.000 per kilogram.

 Gas 3 Kg
Meskipun pemerintah belum menaikkan harga gas 3 kg, namun nyatanya harga eceran di lapangan sudah mulai tertarik ke atas. Menurut PT Pertamina, kenaikan terjadi di tingkat pangkalan bukan di tingkat agen. Kalau harga di tingkat agen memang ditentukan oleh perusahaan plat merah itu, tapi untuk di tingkat pangkalan ditentukan oleh Pemerintah Daerah.
Ternyata, sejak awal tahun, Pemerintah Daerah sudah menaikkan Harga Eceran Tertinggi (HET) elpiji yang lebih dikenal dengan gas melon ini. Saat ini, harga di warung sudah mencapai Rp 20.000 ribu per tabung, dari harga Rp 18.500.


Bahan Bakar Minyak (BBM)
Setelah di lepas ke harga pasar internasional dan dicabut subsidinya, harga BBM selalu berfluktuasi mengikuti harga minyak dunia. Saat ini, BBM jenis premium di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) memang tidak naik, tetap Rp 6.700 per liter. Tapi BBM yang beroktan lebih tinggi naik, seperti Pertamax 92 mulai beranjak menjadi Rp 8.050 per liter dari sebelumnya Rp 8.000 per liter.
Kenaikan ini berangkat dari kenaikan harga rata-rata minyak basis Singapura (mean of platts singapore) yang per 13 Februari kemarin berada di level USD 73 per barel, atau meningkat 5,7 persen dibandingkan posisinya di awal bulan ini.

Tarif dasar listrik
Sama dengan BBM, tarif listrik juga dilepas ke pasar (tak ada subsidi lagi). Per Januari 2015, pemerintah menetapkan tarif adjustment (penyesuaian tarif) untuk semua golongan. Tapi, kemudian pemerintah memilih untuk mengundur kenaikan tarif listrik untuk golongan rumah tangga. Sementara untuk golongan mulai dari 1.300 VA ke atas mulai disesuaikan atau naik. (cho)

Mengakhiri Privatisasi Air

Sudah terbukti, di berbagai belahan dunia, privatisasi air hanya melahirkan malapetaka. Pengelolaan air melalui mekanisme pasar terbukti gagal mendistribusikan sumber daya air secara adil dan merata kepada seluruh rakyat.

Pada hari Rabu (18/2), Mahkamah Konstitusi (MK) membatalkan seluruh isi Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air (SDA). Dalam pembacaan putusannya, MK menganggap UU SDA bertentangan dengan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945.

Keputusan MK ini patut disambut gegap-gempita oleh rakyat. Ini adalah kemenangan konstitusional bagi rakyat atas hak mereka terhadap sumber daya air. Setidaknya, dengan pencabutan UU tersebut, agenda privatisasi air di Indonesia kehilangan payung hukumnya.

Memang, praktek komersialisasi air di Indonesia sudah berlangsung lama. Sudah sejak tahun 1990-an. Namun, pada saat itu, belum ada produk hukum berbentuk Undang-Undang yang memayungi agenda tersebut. Namun demikian, swasta sudah mulai turut andil dalam bisnis pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya air di Indonesia.

Di tahun 1997, dua perusahaan multi-nasional, yakni Lyonaise/Suez Environment (Perancis) dan Thames (Inggris), mendapat konsesi untuk mengelola layanan air di Jakarta. Konsesi itu berlaku untuk 25 tahun. Itulah tonggak awal masuknya perusahaan multi-nasional dalam bisnis air di Indonesia.

Dalam kontrak tersebut disebutkan soal hak swasta untuk mendapatkan bayaran atas jasanya menyediakan layanan air. Pembayaran tersebut dilakukan melalui sistem yang disebut imbalan air (water charge). Pada kenyataannya, imbalan air selalu naik setiap enam bulan. Dan, untuk menutupinya, konsumen pun dibebani kenaikan tarif air.

Belum lagi, sejak pemberlakuan UU tersebut, ada begitu banyak sumber-sumber mata air yang dikuasai oleh swasta. Masalahnya, di tangan swasta, sumber-sumber mata air tersebut dimanfaatkan untuk kepentingan bisnis, seperti air kemasan, industri, pariwisata, dan lain-lain. Akibatnya, rakyat tidak punya lagi akses terhadap sumber daya tersebut. Ini juga yang memicu krisis air, termasuk air bersih, di sejumlah wilayah di Indonesia.

Privatisasi air memang membawa sejumlah konsekuensi. Pertama, rakyat kehilangan akses terhadap sumber daya air. Privatisasi akan menjadi pintu masuk bagi swasta untuk menguasai sumber daya air. Padahal, sumber daya air sangat vital bagi kehidupan manusia. Air merupakan kebutuhan nomor dua bagi manusia, tentunya setelah oksigen, untuk hidup. Manusia juga membutuhkan air untuk sanitasi dan kegiatan produksi (pertanian, industri, dan lain-lain). Karena itu, sumber daya air merupakan hak azasi manusia.

Kedua, pengelolaan sumber daya air di bawah mekanisme pasar ditujukan untuk menggali keuntungan (profit). Setiap orang yang hendak mengakses sumber daya air diharuskan mengeluarkan uang. Ini membawa konsekuensi: sumber daya air menjadi komoditas ekslusif yang hanya bisa diakses kaum berduit (kaya). Alhasil, rakyat yang tergolong berpendapatan menengah ke bawah akan kesulitan mengakses sumber daya air.

Ketiga, privatisasi menghilangkan tanggung-jawab negara dalam menyediakan sumber daya air bagi rakyatnya. Bahwa negara terkadang kurang baik dalam menyelenggarakan tata-kelola sumber daya, itu persoalan lain. Tetapi ada banyak bukti yang menunjukkan bahwa negara juga sukses dalam mengelola sumber daya yang terkait dengan kepentingan publik.

Sebaliknya, tidak ada jaminan bahwa swasta akan mengelola lebih baik. Dalam konteks Jakarta, kehadiran swasta tidak berhasil membuat seluruh warga DKI Jakarta bisa mengakses air bersih. Data resmi menunjukkan, baru sekitar 52,13 persen warga DKI Jakarta yang bisa mengakses air bersih. Sisanya masih mengandalkan sumur dan air pikulan. Selain itu, berdasarkan hasil riset Kesehatan Dasar 2010 oleh Kementerian Kesehatan, hanya 18,3 persen warga Jakarta yang memiliki sambungan air perpipaan terlindungi.

Pengelolaan sumber daya air mestinya mengacu pada konstitusi kita: UUD 1945. Dalam pasal 33 UUD 1945 ayat (3) ditegaskan: “Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.”

Merujuk pada pasal tersebut, ada hal yang mesti terpastikan terkait pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya air di Indonesia: pertama, sumber daya air harus dikuasai oleh negara sebagai representasi dari kepentingan umum/rakyat; dan kedua, pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya air harus ditujukan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Sumber Artikel: Berdikari Online

Sengkarut Masalah Budaya (2)

JIKA sebelumnya, Pojok Literasi Indonesia membahas kebudayaan menurut perspektif Bung Karno. (Baca: Sengkarut Masalah Budaya 1). Maka kali ini, penulis akan menampilkan kajian budaya menurut Bapak Pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara.

Menurutnya, kebudayaan merupakan buah budi manusia adalah hasil perjuangan manusia terhadap dua pengaruh kuat, yakni alam dan zaman (kodrat dan masyarakat) yang merupakan bukti kejayaan hidup manusia untuk mengatasi berbagai rintangan dan kesukaran di dalam hidup dan penghidupannya guna mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang pada lahirnya bersifat tertib dan damai. Karena itu, pemilik nama asli R.M Suwardi Suryadiningrat berpendapat bahwa kebudayaan adalah instrumen penting yang berkaitan erat dengan pendidikan.


Atas derasnya gempuran budaya asing yang kian menggerus budaya asli Indonesia, Pendiri Taman Siswa ini menelurkan teori Trikon sebagai jawabannya. Trikon (3 kon-) yang ia maksud adalah kontinyu, konverger, dan konsentris. Lewat konsepsi Trikon ini pula, Ki Hajar bermaksud agar budaya asli Indonesia tetap lestari.


Lalu apa yang dimaksud dengan Trikon?
1. Kontinyu, artinya uppaya pelestarian kebudayaan asli Indonesia harus dilakukan secara terus menerus dan berkesinambungan. Teori ini bisa diimplementasikan melalui pengajaran muatan lokal di sekolah-sekolah, juga dengan menjaga tradisi, upacara-upacara adat, pementasan kesenian daerah, dan lainnya.


2. Konverger. Dalam hal ini, Ki Hajar mengajak agar Indonesia tidak perlu takut dengan masuknya budaya asing. Namun demikian, akulturasi tersebut harus terjadi secara perlahan tanpa paksaan (adaptif). Ki Hajar menilai, semua kebudayaan pasti memiliki nilai positif. Karenanya, Indonesia harus bisa memilih dan memilah value tersebut dan memadukannya dengan budaya Indonesia. "TAKE THE GOOD VALUE," kata dosen penulis.


3. Konsentris, artinya dalam pergaulan dengan bangsa-bangsa lain di jagat raya ini, Indonesia harus berusaha menyatukan budaya nasional dengan kebudayaan dunia. Dengan catatan, Indonesia harus tetap memegang karakter dan kepribadiannya sendiri, budaya yang Pancasilais.


Terakhir, penulis menilai, teori Trikon ini sebenarnya tidak hanya ditujukan untuk kebudayaan saja. Lebih jauh, teori ini bisa juga diaplikasikan pada aspek politik, ekonomi, ilmu pengetahuan, dan lainnya.
Jujur atau tidak, saat ini kondisi politik, ekonomi dan kebudayaan Indonesia sangat memprihatinkan. Ekonomi tidak mandiri, politik tidak berdaulat, dan budayanya jauh dari kepribadian bangsa. (cho)

Sengkarut Masalah Budaya (1)

 "....Dan engkau, hei pemuda-pemuda dan pemudi-pemudi; engkau jang tentunja anti-imprialisme ekonomi, engkau jang menentang imprialisme politik; kenapa di kalangan engkau banjak jang tidak menentang imprialisme kebudajaan? Kenapa di kalangan engkau banjak jang masih rock ‘n roll - rock‘n roll-an, dansi-dansian ala cha-cha-cha, musik-musikan ala ngak-ngik-ngok, gila-gilaan, dan lain-lain sebagainja lagi? Kenapa di kalangan engkau banjak jang gemar membatja tulisan-tulisan dari luaran, jang njata itu adalah imprialisme kebudajaan?”
Soekarno

PRESIDEN Soekarno jelas menaruh perhatian penuh pada aspek kebudayaan. Bahkan, sang proklamator ini menempatkan kebudayaan sejajar dengan ekonomi dan politik. Lewat gagasan Trisaktinya, Soekarno menggagas agar kebudayaan negara ini berkepribadian.

“ Republik Indonesia tegas mengeluarkan konsepsi. Pancasila, Manipol Usdek, Berdikari, Trisakti, Nasakom,” kata Bung Karno dalam pidato ‘Ganyang Malaysia’, tahun 1964.

Lewat gagasan kebudayaan yang berkepribadian itulah Soekarno berharap bangsa ini menjadi bangsa yang memiliki karakter, watak, dan kepribadian sesuai dengan warisan leluhur berupa nilai-nilai positif dan keluluhuran budaya yang telah berkembang di masyarakat sebagai warisan nenek moyang.

Bahkan pada era Orde Asli tersebut, Soekarno dengan tegas melarang kebudayaan asing menggurita di Indonesia. Seperti kutipan di awal tulisan ini, Soekarno sangat anti terhadap westernisasi. Bahkan sang presiden menerbitkan Penetapan Presiden Nomor 11/1963 untuk menghadang budaya.

Pelarangan musik dan seni berbau kebarat-baratan itu karena dianggap tidak menunjukkan karakter budaya Indonesia, mengajarkan hura-hura, dan kontra-revolusi. Walhasil, Koes Bersaudara sempat dijebloskan ke dalam tahanan karena dianggap meracuni rakyat lewat music yang berbau The Beatles dan Elvis Presley-nya. Soekarno menyebutnya  music "ngak-ngik-ngok.”

Menilik dari hal tersebut, kebudayaan Indonesia saat ini snampaknya sudah berbalik 180 derajat. Tak hanya akibat jajahan imperialis yang membuat budaya Indonesia semakin kabur. Sistem ekonomi kapitalistik menghantarkan masyarakat Indonesia yang dikenal memiliki budaya komunal (gotong royong) ke ruang sempit individualism. Begitu juga dengan dalam bidang seni, semakin tergerus oleh kebudayaan yang datang dari luar.

Kondisi ini jelas menimbulkan kegelisahan dan keresahan. Budaya Indonesia yang dikenal maskulin menjadi sangat cengeng melalui music dayu-mendayu. Begitu juga dengan tontonan di televisi yang menjadi tuntunan juga menampilkan budaya yang jauh dari orisinalitas budaya Indonesia. Situasi ini turut mengaburkan perbedaan seniman dan penghibur. Apakah mereka yang acap tampil di TV dengan gaya ‘ora jelas’ itu layak disebut seniman?

Menempatkan budaya sejajar dengan ekonomi dan politik, Soekarno nampaknya berharap besar perjuangan akan budaya disejajarkan dengan perjuangan poltik dan perjuangan ekonomi. Lalu perjuangan macam apa yang harus dilakukan oleh para seniman dan budayaan (setidaknya orang yang care dengan budaya Indonesia) saat ini? Apakah mereka harus melakukan petisi untuk menyatakan tolak budaya impor? Atau mereka harus menuntut presiden saat ini untuk meniru Soekarno menerbitkan peraturan khusus?

Bagi penulis sendiri, hal tersebut tidak dirasa urgen. Meski sangat mengidolakan Soekarno, penulis beranggapan, perjuangan budaya bukan masalah bentuk tapi value dari budaya itu sendiri. Tidak begitu perlu menentang bentuk, tapi tentang saja nilai budaya yang jauh bahkan mengancam eksistensi karakter bangsa ini.

Terakhir, penulis ingin mengajakl agar semua insane masyarakat Indonesia yang berprikemanusiaan agar menjadi manusia yang berprikebudayaan. Budaya Indonesia tidak boleh cengeng. Budaya yang harus terus digulirkan adalah budaya yang menentang 3 setan. Budaya anti-kapitalisme, anti-feodalisme, dan anti juga pada militerisme. Dengan budaya tersebut, Indonesia akan menjadi negara yang gagah dengan Trisaktinya. (cho)


Lanjut ke => Sengkarut Masalah Budaya (2)