Tampilkan postingan dengan label PROFIL. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PROFIL. Tampilkan semua postingan

Misbach; Haji Kok Komunis?



"…Agama berdasarkan sama rata sama rasa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa hak persamaan untuk segenap manusia dalam dunia tentang pergaulan hidup, tinggi dan hinanya manusia hanya tergantung atas budi kemanusiaannya...."

HM Misbach


Banyak yang bilang komunis itu pasti atheis, tidak percaya dengan adanya tuhan. Anggapan itu tidak sekoyong-konyong hadir tentunya. Ada satu sistem, ada satu penguasa sistem yang mengendalikan itu. Kalau kata Lenin, penguasa infrastruktur akan menguasai suprastruktur (dalam hal ini opini rakyat). Tentu saya tidak perlu menjawab, siapa si penguasa tersebut. Dari sejarah tragedi 1965, para pembaca sudah bisa menjawabnya sendiri.
Ternyata, anggapan bahwa komunis itu perlahan mulai patah. Atheis adalah ideologi agama, sementara komunis adalah ideologi ekonomi politik. Ideologi itu jelas berbeda. Makanya, kita sering dengar Tan Malaka sering mengucapkan, yang kira-kira begini bunyinya: "Di depan Tuhan, aku beragama. Di depan kalian (manusia), aku adalah seorang komunis."
Adalah Haji Mohammad Misbach yang menjadi fakta konkrit untuk membantah doktrin palsu tersebut. Haji Misbach atau yang lebih dikenal dengan Haji Merah adalah seorang tokoh pergerakan Islam. Haji yang lahir pada 1876 ini dilahirkan di Kauman, di sisi barat alun-alun utara, persis di depan keraton Kasunanan dekat Masjid Agung Surakarta. Semasa kecil, dia bernama Ahmad, lalu berganti nama menjadi Darmodiprono setelah menikah. Usai menunaikan ibadah haji, barulah dia dikenal sebagai Haji Mohamad Misbach.
Bibit relijius tidak hadir begitu saja di dalam diri haji yang wafat pada 1926 ini. Diketahui, ayahnya adalah seorang pejabat keagamaan selain juga seorang pedagang batik yang kaya raya. Pada usia sekolah, dia ikut pelajaran keagamaan dari pesantren, selain di sekolah bumiputera "Ongko Loro".
Mendapatkan pendidikan berbasis pesantren serta lingkungan keraton Surakarta menjadikan Misbach memilih jalan menjadi seorang Mubaligh. Seiring perjalanan hidupnya, ia kepincut dengan ideologi komunis yang sangat berpengaruh pada era perjuangan pembebasan penjajahan kala itu. Karena itu, meski orang tunya menjabat sebagai pejabat keagamaan keraton, hal tersebut tidak membuat Misbach takut untuk menyuarakan suara wong cilik.
Perkenalan Misbach dengan dunia aktivis menarik minatnya untuk mulai melibatkan diri secara penuh dengan bergabung dalam Inlandsche Journalisten Bond (IJB) bentukan Mas Marco Kartodikromo pada tahun 1914. Setahun kemudian, ia menerbitkan surat kabar Medan Moeslimin, sebagai koran perjauangannya. Dan aktif menyuarakan suara rakyat serta melawan kolonialisme dengan pena jurnalisme.
Tahun 1917, ia menerbitkan kemudia surat kabar Islam Bergerak. Setahun kemudian, Misbach bergabung dengan Tentara Kanjeng Nabi Muhammad. Pada tahun ini pula, tepatnya 10 Juli, ia membentuk Sidik Amanat Tableg Vatonah (SATV).
Semakin giat mengorganisir dan melawan penjajah, pada tanggal 7 Mei 1919, ia akhirnya ditangkap. Ini setelah ia menggambar kartun di Islam Bergerak yang isinya menyinggung kapitalis Belanda dan Pakubuwono X. Tapi, kemudia dibebaskan pada 22 Oktober 1919.
Tak sekali itu saja, pada tanggal 16 Mei 1920, ia kembali ditangkap dan dipenjarakan di Pekalongan selama 2 tahun 3 bulan. Keluar dari penjara, ia semakin garang. Tepat tahun 1922, ia memutuskan keluar dari Muhammadiyah. Pasalnya, ia menilai kedua organisasi itu dianggap mandul dan bersikap kooperatif dengan pemerintah
Mei 1923, ia kembali muncul dan memproklamirkan SI Merah/PKI. Karena keberaniannya itu, tanggal 20 Oktober 1923, ia kembali dijebloskan ke penjara dengan tuduhan terlibat dalam aksi-aksi pembakaran bangsal, penggulingan kereta api, pemboman dan lain-lain. Tak sampai situ, Juli 1924, si Haji Merah kembali ditangkap dan dibuang ke Manokwari dengan tuduhan mendalangi pemogokan-pemogokan dan teror-teror di Surakarta dan sekitarnya.

Pergerakan Islam
Pertanyaan mendalamnya, kenapa akhirnya Haji Misbach memilih untuk menjadi seorang muslim yang komunis? Perbedaan dinamika sosial Islam di Yogya dan Surakarta masa itu menjadi penyebab utamanya.
Seperti diketahui, di Yogya, Muhammadiyah yang didirakan oleh KH Ahmad Dahlan pada 1912 di segera menjadi sentral kegiatan kaum muslimin yang saleh yang kebanyakan berlatar belakang keluarga pegawai keagamaan Sultan. Ayah Dahlan adalah chatib amin Masjid Agung dan ibunya putri penghulu (pegawai keagamaan kesultanan) di Yogya. Para penganjur Muhammadiyah umumnya anak-anak pegawai keagamaan. Kala itu birokrat keagamaan umumnya adalah alat negara sehingga wewenang keagamaannya tidak berasal dari kedalaman pengetahuan tentang Islam tetapi karena jabatannya. Meskipun mereka berhaji dan belajar Islam, masih kalah wibawa dibandingkan para kiai yang pesantrennya bebas dari negara. Kendati demikian, reformisme Muhammadiyah berhasil menyatukan umat Islam yang terpecah-pecah. Tablig-tablignya, kajian ayat yang dijelaskan dengan membacakan dan menjelaskan maknanya di masjid-masjid, pendirian lembaga pendidikan Islam, membangunkan keterlenaan umat Islam. Mereka tumbuh menjadi pesaing tangguh misionaris Kristen dan aktivis sekolah-sekolah bumiputera yang didirikan pemerintah.
Nah, lain halnya dengan di Surakarta, kala itu belum ada pengaruh sekuat Dahlan dan Muhammadiyah. Ini karena di Surakarta sudah ada sekolah agama modern pertama di Jawa, Madrasah Mamba'ul Ulum yang didirikan patih R. Adipati Sosrodiningrat (1906). Selain itu, Sarekat Islam (SI) juga sudah lebih dulu berkiprah sebagai wadah aktivis pergerakan Islam. Di Surakarta, pegawai keagamaan yang progresif, kiai, guru-guru Al-Quran, dan para pedagang batik mempunyai forum yang berwibawa, Medan Moeslimin. Di situlah pendapat mereka yang kerap berbeda satu sama lain tersalur. Kelompok ini menyebut diri "kaum muda Islam".
Dalam pergerakan Islam Surakarta dan Yogya terdapat perbedaan mencolok. Di Yogya, gerakan Islam tidak hanya reformis, tapi juga modernis. Sementara di Surakarta, pergerakan islamnya lebih revolusioner. Tidak hanya berdiri di atas mimbar masjid saja. Pasalnya, kegiatan keislaman di Surakarta banyak dipengaruhi kiai progresif, seperti Kiai Arfah dan KH Muhammad Adnan.
Saking derasnya demokrasi pemikiran, perpecahan kelompok Islam di Surakarta tak bisa terelakkan. Berawal dari artikel Djojosoediro di surat kabar Djawi Hisworo, yang mana pemimpin redaksinya adalah Martodharsono. Tulisan tersebut dianggap menyingung dan dianggap liberal oleh kalangan ortodoks.
Sarekat Islam, sebagai organisasi Islam terbesar kala itu, merasa wajib untuk melakukan pembelaan. Untuk itu, pada awal Februari 1918, Tjokroaminoto telah membentuk apa yang disebut Tentara Kandjeng Nabi Mohammad (TKNM) untuk “mempertahankan kehormatan Islam, Nabi, dan Kaum Muslimin”.
Pembentukan TKNM oleh Tjokroaminoto inilah yang kemudian mencuatkan nama Misbach sebagai mubaligh vokal. Misbach lalu menyikapi dengan segera membentuk perkumpulan tablig reformis bernama Sidik Amanat Tableg Vatonah (SATV) untuk memperkuat “kebenaran dan memajukan Islam”. Ia menyebar seruan tertulis menyerang Martodharsono serta mendorong terlaksananya rapat umum dan membentuk subkomite TKNM. Segeralah beredar cerita, Misbach akan berhadapan dengan Martodharsono di podium.
Komunitas yang dulunya kurang greget menyikapi keadaan itu tiba-tiba menjadi dinamis. Kaum muslimin Surakarta berbondong-bondong menghadiri rapat umum di lapangan Sriwedari, pada 24 Februari 1918 yang konon dihadiri 20.000-an orang. Tjokroaminoto mengirim Haji Hasan bin Semit dan Sosrosoedewo (penerbit dan redaktur jurnal Islam Surabaya, Sinar Islam), dua orang kepercayaannya di TKNM. Waktu itu terhimpun sejumlah dana untuk pengembangan organisasi ini. Muslimin Surakarta bergerak proaktif menjaga wibawa Islam terhadap setiap upaya penghinaan terhadapnya. Inilah awal perang membela Islam dari "kaum putihan" Surakarta.
Belakangan, muncul kekecewaan jamaah TKNM ketika Tjokro tiba-tiba saja mengendurkan perlawanan kepada Martodharsono dan Djawi Hisworo setelah mencuatnya pertikaian menyangkut soal keuangan dengan H Hasan bin Semit. Buntutnya, H Hasan bin Semit keluar dari TKNM. Beredar artikel menyerang petinggi TKNM. Muncul statemen seperti "korupsi di TKNM dianggap sudah menodai Nabi dan Islam".
Dalam situasi itu, Misbach muncul menggantikan Hisamzaijni, ketua subkomite TKNM dan menjadi hoofdredacteur (pemimpin redaksi) Medan Moeslimin. Artikel pertamanya di media ini berjudul Seroean Kita. Dalam artikel itu, ia menyajikan gaya penulisan yang khas, yang kata Takashi, menulis seperti berbicara dalam forum tablig. Ia mengungkapkan pendapatnya, bergerak masuk ke dalam kutipan Al-Quran kemudian keluar lagi dari ayat itu. "Persis seperti membaca, menerjemahkan, dan menerangkan arti ayat Al-Quran dalam pertemuan tablig." Sikap Misbach ini segera menjadi tren, apalagi kemudian secara kelembagaan perkumpulan tablig SATV benar-benar eksis melibatkan para pedagang batik dan generasi santri yang lebih muda.
SATV menyerang para elite pemimpin TKNM, kekuasaan keagamaan di Surakarta, menyebut mereka bukan Islam sejati, tetapi "Islam lamisan", "kaum terpelajar yang berkata mana yang bijaksana yang menjilat hanya untuk menyelamatkan namanya sendiri." Dasar keyakinan SATV dengan Misbach sebagai ideolognya, "membuat agama Islam bergerak". Misbach kondang di tengah muslimin bukan sekadar karena tablignya, melainkan ia menjadi pelaku dari kata-kata keras yang dilontarkannya di berbagai kesempatan. Ia dikenal luas karena perbuatannya "menggerakkan Islam": menggelar tablig, menerbitkan jurnal, mendirikan sekolah, dan menentang keras penyakit hidup boros dan bermewah-mewah, dan semua bentuk penghisapan dan penindasan.
Ada dua perbedaan SATV dibanding Muhammadiyah. Pertama, Muhammadiyah menempati posisi strategis di tengah masyarakat keagamaan Yogya, sedangkan SATV adalah perhimpunan muslimin saleh yang merasa dikhianati oleh kekuasaan keagamaan, manipulasi pemerintah, dan para kapitalis. Kedua, militansi para penganjur Muhammadiyah bergerak atas dasar keyakinan bahwa bekerja di Muhammadiyah berarti hidup menjadi muslim sejati. Sedangkan militansi SATV berasal dari rasa takut untuk melakukan manipulasi, dan keinginan kuat membuktikan keislamannya dengan tindakan nyata. Di mata pengikut SATV, muslim mana-pun yang perbuatannya mengkhianati kata-katanya berarti muslim gadungan.
Lalu apa pandangan politik Haji Merah? Misbach memiliki posisi yang unik dalam sejarah tanah air. Namanya sering disandingkan dengan Semaun, Tan Malaka, atau golongan kiri lainnya. Di kalangan gerakan Islam, memang namanya nyaris tak pernah disebut karena berpaham komunis. Menurutnya, Islam dan komunisme tidak selalu harus dipertentangkan, Islam seharusnya menjadi agama yang bergerak untuk melawan penindasan dan ketidakadilan.
Marco Kartodikromo, seorang wartawan yang juga seorang aktivis kebangkitan nasional asal Hindia-Belanda pada saat itu, berkisah tentang Misbach:
".. Di Pemandangan Misbach tidak ada beda di antara seorang pencuri biasa dengan orang yang dikata berpangkat, begitu juga di antara rebana dan klenengan, di antara bok Haji yang bertutup muka dan orang bersorban cara Arab dan berkain kepala cara Jawa. Dan sebab itu dia lebih gemar memaki kain kepala dari pada memakai peci Turki atau bersorban seperti pakaian kebanyakan orang yang disebut Haji".
Apa yang tersirat dari tulisan Marco adalah populisme Misbach. Populisme seorang Haji, sekaligus pedagang yang sadar akan penindasan kolonialisme Belanda dan tertarik dengan ide-ide revolusioner yang mulai menerpa Hindia pada zaman itu.
Misbach langsung terjun melakukan pengorganisiran di basis-basis rakyat. Membentuk organisasi dan mengorganisir pemogokan ataupun rapat-rapat umum/vergadering yang dijadikan mimbar pemblejetan kolonialisme dan kapitalisme. Orang menggambarkan dirinya sebagai sosok yang tak segan bergaul dengan anak-anak muda penikmat klenengan (musik Jawa) dengan tembang yang sedang populer. Satu tulisan lain tentang Misbach menyebutkan, di tengah komunitas pemuda, dia menjadi kawan berbincang yang enak. Sementara di tengah pecandu wayang orang, dia lebih dihormati ketimbang direktur wayang orang.
"... di mana-mana golongan Rajat Misbach mempoenjai kawan oentoek melakoekan pergerakannya. Tetapi didalem kalangannya orang-orang jang mengakoe Islam dan lebih mementingkan mengoempoelken harta benda daripada menolong kesoesahan Rajat, Misbach seperti harimau didalem kalangannya binatang-binatang ketjil. Kerna dia tidak takoet lagi menyela kelakoeannja orang-orang yang sama mengakoe Islam tetapi selaloe mengisep darah temen hidoep bersama."
Misbach sangat antikapitalis. Siapa yang secara kuat diyakini menjadi antek kapitalis yang menyengsarakan rakyat akan dihadapinya melalui artikel di Medan Moeslimin atau Islam Bergerak. Tak peduli apakah dia juga seorang aktivis organisasi Islam. Berdamai dengan pemerintah Hindia Belanda adalah jalan yang akan dilawan dengan gigih. Maka kelompok yang anti politik, anti pemogokan, secara tegas dianggap berseberangan dengan misi keadilan.
Misbach membuat kartun di Islam Bergerak edisi 20 April 1919. Isinya menohok kapitalis Belanda yang menghisap petani, mempekerja-paksakan mereka, memberi upah kecil, membebani pajak. Residen Surakarta digugat, Paku Buwono X digugat karena ikut-ikutan menindas. Retorika khas Misbach, muncul dalam kartun itu sebagai "suara dari luar dunia petani". Bunyinya, "Jangan takut, jangan kawatir". Kalimat ini memicu kesadaran dan keberanian petani untuk mogok. Ekstremitas sikap Misbach membuat dia ditangkap, 7 Mei 1919, setelah melakukan belasan pertemuan "kring" (subkelompok petani perkebunan). Tapi akhirnya Misbach dibebaskan pada 22 Oktober sebagai kemenangan penting Sarekat Hindia (SH), organisasi para bumiputera.
Misbach menegaskan kepada rakyat "jangan takut dihukum, dibuang, digantung", seraya memaparkan kesulitan Nabi menyiarkan Islam. Misbach pun sosok yang selain menempatkan diri dalam perjuangan melawan kapitalis, ia meyakini paham komunis. Misbach mengagumi Karl Marx. Marx di mata Misbach berjasa membela rakyat miskin, mencela kapitalisme sebagai biang kehancuran nilai-nilai kemanusiaan. Agamapun dirusak oleh kapitalisme sehingga harus dilawan dengan historis materialisme.
Pada konggres PKI tanggal 4 Maret 1923 yang dihadiri 16 cabang PKI, 14 cabang SI Merah dan beberapa perkumpulan serikat komunis, Misbach memberikan uraian mengenai relevansi Islam dan komunisme dengan menunjukkan ayat-ayat Al-Qur’an serta mengkritik pimpinan SI Putih yang munafik dan menjadikan Islam sebagai selimut untuk memperkaya diri sendiri. Pada tahun 1923 pula, dia menulis kritikannya terhadap Tjokroaminoto di Medan Moeslimin dengan judul “Semprong Wasiat: Disiplin Organsisi Tjokroaminoto Menjadi Racun Pergerakan Rakyat Hindia”.
Kekecewaannya terhadap lembaga-lembaga Islam yang tidak tegas membela kaum dhuafa, membuat dia memilih ikut Perserikatan Kommunist di Indie (PKI) ketika CSI (Central Sarekat Islam) pecah melahirkan PKI/SI Merah, bahkan mendirikan PKI afdeling Surakarta. Dia pun muncul sebagai pimpinan PKI di Surakarta, yang kemudian mengubah surat kabar Islam Bergerak menjadi Ra’jat Bergerak dan penyatuan secara de fakto organ PKI Yogyakarta berbahasa Melayu, Doenia Baroe, ke dalam Ra’jat Bergerak pada September 1923. Berjuang melawan kapitalisme, tak membuat dia tidak menegakkan Islam. Baginya, perlawanan terhadap kapitalis dan pengikutnya sama dengan berjuang melawan setan.
Masa pembuangan
Bulan Mei 1919 akibat pemogokan-pemogokan petani yang dipimpinnya, Misbach dan para pemimpin pergerakan lainnya di Surakarta ditangkap. Pada 16 Mei 1920, ia kembali ditangkap dan dipenjarakan di Pekalongan selama 2 tahun 3 bulan. Pada 22 Agustus 1922 dia kembali ke rumahnya di Kauman, Surakarta. Maret 1923, ia sudah muncul sebagai propagandis PKI/SI Merah dan berbicara tentang keselarasan antara paham Komunis dan Islam. Pada tanggal 20 Oktober 1923, Misbach kembali dijebloskan ke penjara dengan tuduhan terlibat dalam aksi-aksi revolusioner yaitu pembakaran bangsal, penggulingan kereta api, pemboman dan lain-lain. Bulan Juli 1924 ia ditangkap dan dibuang ke Manokwari dengan tuduhan mendalangi pemogokan-pemogokan dan teror-teror/sabotase di Surakarta dan sekitarnya. Walaupun bukan yang pertama diasingkan tapi ia-lah orang yang pertama yang sesungguhnya berangkat ke tanah pengasingan di kawasan Hindia sendiri.
Terkait dengan "teror-teror" yang terjadi di Jawa tersebut, Misbach tetap dipercaya sebagai otaknya. Dia ditangkap. Dalam pengusutan sejumlah fakta memberatkannya meskipun belakangan para saksi mengaku memberi kesaksian palsu karena iming-iming bayaran dari Hardjosumarto, orang yang "ditangkap" bersamanya. Hardjosumarto sendiri juga mengaku menyebarkan pamflet bergambar palu, arit, dan tengkorak, membakar bangsal sekatenan, dan mengebom Mangkunegaran. Namun Misbach tetap tidak dibebaskan. Dia dibuang ke Manokwari, Papua, beserta dengan istri dan tiga anaknya. Ternyata pembuangan tidak membuatnya berhenti bergerak, dia masih sempat mendirikan Sarekat Rakyat cabang Manokwari, yang anggotannya tidak pernah lebih dari 20 karena gangguan Polisi Belanda. Selain itu, dia juga menyusun artikel berseri "Islamisme dan Komunisme". Medan Moeslimin kemudian memuat artikel tersebut,
"…agama berdasarkan sama rata sama rasa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa hak persamaan untuk segenap manusia dalam dunia tentang pergaulan hidup, tinggi dan hinanya manusia hanya tergantung atas budi kemanusiaannya. Budi terbagi tiga bagian: budi kemanusiaan, budi binatang, budi setan. Budi kemanusiaan dasarnya mempunyai perasaan keselamatan umum; budi binatang hanya mengejar keselamatan dan kesenangan diri sendiri; dan budi setan yang selalu berbuat kerusakan dan keselamatan umum."
Ditengah ganasnya alam di tempat pembuangannya, dia terserang malaria dan meninggal di pada 24 Mei 1926 dan dimakamkan di kuburan Penindi, Manokwari, di samping kuburan istrinya. Tjipto Mangunkusuma dalam surat kabar Panggoegah, 12 Mei 1919 melukiskan keberanian Misbach dalam melawan kolonialisme Belanda sebagai "seorang ksatria sejati" yang mengorbankan seluruh hidupnya untuk pergerakan. (cho)

Si Bima Yang Berpena Tajam

Apa yang terlintas dari kepala anda saat saya sebut nama Bima? Tokoh pewayangan kah? Anda tidak salah. Tapi Bima yang kumaksud kali ini adalah Soekarno.

Iya, banyak orang yang tak tahu jika Soekarno pernah memakai nama Bima. Nama ini digunakan Sang Proklamator tersebut sebagai nama penanya saat menjadi jurnalis. Benar, pada masa mudanya, tahun 1920-an, Bung Karno sempat menekuni dunia jurnalistik. Bahkan, tulisan beliau sangat tajam dan menggigit kala itu.

Ia menerbitkan tulisan-tulisan pertamanya melalui koran Sarekat Islam, Oetoesan Hindia. DI koran itu, Soekarno menulis sekitar 500-an artikel maupun opini. Tulisan-tulisannya sangat tajam menohok kapitalisme, imperialisme, dan kolonialisme. “..hancurkan segera kapitalisme yang dibantu budaknya imperialisme. Dengan kekuatan Islam, Insaallah, itu segera dilaksanakan,” tulis Soekarno di salah satu artikelnya.

Selain melalui Oetoesan Hindia, Soekarno juga sempat menjadi redaksi di koran Bendera Islam. Belakangan, koran ini berganti nama menjadi Fadjar Asia, yang terbit tiga kali seminggu. Koran ini mengambil semboyan: “Melawan Imperialisme Barat! Berjuang untuk Kebebasan Bangsa dan Tanah Air.”

Di tahun 1926, Soekarno mendirikan kelompok studi bernama Algemene Studie Club. Kelompok studi ini punya koran bernama 'Soeloeh Indonesia Muda'. Koran itu dibiayai oleh Soekarno sendiri dari honorariumnya sebagai arsitek. Di koran inilah Soekarno menerbitkan risalahnya yang sangat terkenal, Nasionalisme, Islamisme, dan Marxisme. Di artikel itu Soekarno mengkritik penyakit ‘berpandangan sempit’ dan sektarian di kalangan pergerakan anti-kolonial di Indonesia, kala itu.

Setahun kemudian, Soekarno mendirikan Partai Nasionalis Indonesia (PNI). Bagi Soekarno, PNI adalah alat politik untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Karena itu, PNI mengambil jalan radikal dan non-kooperasi (menolak kerjasama dengan pihak kolonial). Tahun 1928, PNI menerbitkan koran resminya, Persatoean Indonesia. Untuk memulai koran ini, Soekarno mengumpulkan donasi sebesar 500 gulden dari cabang-cabang PNI. Persatoen Indonesia ini menjadi corong PNI untuk berbicara kepada massa-marhaen.

Soekarno dan PNI mengidamkan sebuah pergerakan massa yang sadar akan alasan dan tujuan perjuangannya. Karena itu, untuk menyuluhi kesadaran massa dari onbewust (tidak sadar) menjadi bewust (sadar), peranan koran menjadi vital. “Massa aksi zonder kursus-kursus, brosur-brosur, dan surat kabar, adalah massa aksi yang tidak hidup dan tidak bernyawa,” kata Soekarno.

Beberapa tulisan Soekarno di Persatoean Indonesia antara lain, “Melihat Kemuka…”, “Tempo jang tak Dapat Dikira-kirakan Habisnja”, “Indonesianisme dan Pan Asiatisme”, “Kearah Persatuan, Menjambut Tulisan H.A. Salim”, “Pidato Ir Sukarno pada tanggal 15 September 1929", “Kewajiban Kaum Intelektual terhadap kepada Pergerakan Rakjat”, dan “Soal Pergerakan Wanita”.

Sayang, seiring dengan penangkapan Soekarno dan tokoh-tokoh PNI, koran Persatoean Indonesia juga kena getahnya. Koran ini sempat berhenti terbit. Namun, atas keinginan Soekarno, koran ini terbit kembali dengan meminjam nama ‘Nyonya Soekarno’ alias Inggit Garnasih. Proses penerbitannya dikerjakan oleh Mr Sartono dan kawan-kawan.

Keluar dari penjara, Soekarno tidak berhenti menulis. Dengan penanya, ia kembali menghujam kekuasaan kolonial melalui artikel berjudul “Sendi dan Azas Pergerakan Kemerdekaan Bangsa Indonesia”. Alhasil, karena gerah dengan tajamnya pena Soekarno, penguasa kolonial membredel koran Persatoean Indonesia.

Tahun 1931, sebagian bekas anggota PNI mendirikan partai baru: Partai Indonesia (Partindo). Azas dan garis politik Partindo tidak berbeda jauh dengan PNI. Begitu keluar dari penjara, Soekarno segera bergabung dengan Partindo ini. Di Partindo, pada tahun 1932, Soekarno lagi-lagi menerbitkan koran baru bernama Fikiran Ra’jat. Di koran ini Soekarno bertindak sebagai pemimpin redaksi. Terbit sekali seminggu, koran politik ini mengambil slogan: Kaoem Marhaen! Inilah Madjallah Kamoe!

Soekarno menyebut Fikiran Ra’jat sebagai ‘madjallah politik popoeler”. Alasannya, koran ini memang diperuntukkan untuk pembaca luas di kalangan marhaen. Terutama mereka yang hanya bisa membaca dan menulis. Tidak mengherankan, bahasa yang dipergunakan Fikiran Ra’jat lebih sederhana dan mudah dipahami oleh rakyat jelata.

Edisi pertama Fikiran Ra’jat terbit 15 Juni 1932. Di koran ini, Soekarno banyak menorehkan penananya. Antara lain: “Maklumat Bung Karno kepada Kaum Marhaen Indonesia”, “Demokrasi Politik dan Demokrasi Ekonomi”, “Socio Nationalisme dan Socio Demokrasi”, “Orang Indonesia Tjukup Nafkahnja Sebenggl Sehari”, “Kapitalisme Bangsa Sendiri”, “Djawaban Saja pada Sdr. M. Hatta”, “Sekali lagi, Bukan Banjak Bitjara, Bekerdjalah, tetapi Banjak Bitjara, Banjak Bekerdja”, “Memperingati 50 Tahun Wafatnya Karl Marx”, “Reform Actie dan Doels Actie”, “Bolehkah Sarekat Sekerdja Berpolitik?”, “Marhaen dan Marhaeni, Satu Massa Actie”, “Membesarkan Fikiran Rakjat”, Azas-azas Perdjuangan Taktik”, dan “Marhaen dan Proletar”.

Untuk memperkuat pemahaman rakyat akan isu yang diketengahkan sekaligus menerjang musuh politiknya, Soekarno juga suka membuat karikatur. Hampir setiap edisi Fikiran Ra’jat disertai gambar karikatur. Dan pembuatnya adalah Soekarno sendiri. Ia sering memakai nama samaran: Soemini.
Selain Fikiran Ra’jat, Soekarno juga menerbitkan kembali Soeloeh Indonesia Muda. Namun, berbeda dengan Fikiran Ra’jat, koran Soeloeh Indonesia Moeda lebih diperuntukkan sebagai koran teori. Sasarannya lebih diprioritaskan ke kalangan kaum terpelajar dan pemimpin pergerakan.

Banyak yang menyebut gaya tulisan Soekarno bak gaya penulis pamflet. Pasalnya, setiap artikelnya berisi pembongkaran masalah, akar masalah, dan bagaimana hal itu diselesaikan. Tak hanya itu, ia juga selalu terang-terangan menunjukkan keberpihakan politik, yakni pemihakan terhadap kaum marhaen dan mereka yang tertindas. Kemudian, di hampir semua tulisannya, Soekarno menghajar kapitalisme, imperialisme, dan kolonialisme sebagai akar yang menciptakan ‘kepincangan’ di dalam masyarakat.
Ia juga menggunakan gaya bahasa populer. Ketika menggunakan suatu istilah ilmiah, entah ekonomi, politik, maupun sosial-budaya, ia akan menjelaskan artinya. Dalam tulisan-tulisannya, Soekarno gemar menggunakan perumpamaan-perumpamaan untuk membimbing daya imajinasi pembacanya agar mengerti apa yang dimaksudkannya.

Tulisan-tulisan Soekarno juga kaya dengan data dan literatur. Hal ini, tentu saja, untuk memperkuat dasar analisis dan kesimpulan-kesimpulannya. Selain itu, banyak tulisan Soekarno yang mengandung polemik, baik terhadap penguasa kolonial maupun dengan sesama kaum pergerakan. Dengan sesama kaum pergerakan, Soekarno kerap berpolemik dengan Mohammad Hatta, Haji Agus Salim, dan tokoh-tokoh komunis.

Ada dua goresan pena Soekarno yang sangat terkenal dan paling mengguncang tatanan kolonial, yakni Indonesia Menggugat dan Mencapai Indonesia Merdeka. Indonesia Menggugat ditulis oleh Soekarno di dalam ruang pengap dan lembab penjara Bantjeuy, Bandung, yang diperuntukkan sebagai pidato pembelaan di hadapan pengadilan kolonial.

Sedangkan Mencapai Indonesia Merdeka ditulis oleh Soekarno di tahun 1933, di sebuah tempat bernama Pangalengan, Bandung. Artikel panjang ini berisi 10 bagian (chapter), yang mengupas asal-usul imperialisme di Indonesia dan bagaimana melawannya. Penutup artikel itu membahas mengenai gagasan Indonesia Merdeka. Tak pelak lagi, penguasa kolonial ketar-ketir dengan artikel itu. Alhasil, Soekarno kembali ditangkap dan dibuang ke Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur.

Begitulah, karena goresan penanya yang tajam, Soekarno berulang kali keluar-masuk penjara kolonial. (cho)

Arikel ini disarikan dari  Berdikari Online yang ditulis oleh Rudi Hartono (Pengurus Komite Pimpinan Pusat- Partai Rakyat Demokratik)



Profil Teater ARTery


Pada kesempatan ini, Pojok Literasi Indonesia akan menulis tentang Teater ARTery/. Ini dirasa cukup penting, karena beberapa waktu yang lalu skuad Pojok Literasi berkesempatan untuk mengundang teater yang bermarkas di Lubang Buaya ini ke kantor Pojok Literasi Indonesia.

Berikut kutipan percakapan Pojok Literasi dengan Ketua ARTery/, Dendi Madiya....

Apa arti ARTery/?
ARTery/ berarti pembuluh darah yang mengalirkan darah dari jantung ke seluruh bagian badan; nadi; tempat penyaluran transportasi atau komunikasi yang utama.

Sejarah ARTery/?
ARTery/ adalah ruang berkreatifitas beberapa anak muda pada kesenian. Lahir setelah mendapat tempat berupa rumah milik Bapak H Ahmad Syafawi di Jalan Gaber Cipayung Jakarta Timur. Tumah ini dulunya merupakan sarana pelatihan tenaga kerja wanita (TKW) sebelum mereka keluar negeri.
Muhammad Amin (anggota ARTery/ dan anak kedua dari Bapak Syafawi) sering mengajak beberapa temannya seperti Reza Pahlevi, Fidelis Krus, Didit Aditio, Muhammad Irfansyah, Suprianto untuk berlatih musik di rumah tersebut setelah kegiatan pelatihan TKW berhenti.
Nah, pada sebuah kesempatan, Reza, Fidel, dan Irfan mengajak mereka untuk bertemu dengan saya (Dendi Madiya, yang dulu adalah sutradara Teater Omponk), di Sanggar Seni dan Budaya, Gelanggang olahraga Bekasi. Disini, mereka juga bertemu dengan personil teater omponk lainnya seperti Adek Ceeguk, Emiliy Wandem, Evan Houston, Syahbudin Lail. Mereka semua menunjukkan beberapa lagu yang sudah dikuasai dan mengajak beberapa personil teater omponk itu bergabung.

Terus?
Pada acara Panggung Pinggir Kali-Sastra Kalimalang awal tahun 2013, mereka membawakan puisi 'Aku - Chairil Anwar' dan 'Nyanyian Jiwa - Iwan Fals'. Kami menjadi sering bertemu dan berlatih bersama. Kesepakat akhirnya, kami ganti nama Teater Omponk menjadi teater ARTery/.

Pengalamannya pentasnya gimana nih?
Pentas perdana ARTery/ adalah monolog Adek Ceeguk 'Segenggam Tanah di Mulutku' pada event Dramakalafest di London School Public of Relations Jakarta, 21 Februari 2013. Lalu pada pertunjukan teater 'Struktur Rumah Tangga Kami' pada Festival Teater Kota Administrasi Jakarta Timur (FTJT), 28 Juni 2013. Pada tahun 2014, ARTery/ lebih banyak bergerak di bidang performance art, terutama dengan komunitak PADJAK (performance art di Jakarta).

Nah, kalau naskah terbaru Tukang kacamata dan Penggemar Elvis itu insiprasinya darimana?
Naskah Tukang Kacamata dan Penggemar Elvis yang mengangkat tema pembantaian pada huru hara politik di tahun 1965. Naskah itu terinspirasi dari fil Jagal dan Senyap karya Joshua Oppenheimer. Naskah ini dipentaskan pertama kalinya di Reboan Jaker, 18 Februari 2015. (cho)

Penasaran dengan salah satu penampilan Teater ARTery/ ?????
Klik beritanya disini.