Tampilkan postingan dengan label SASTRA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SASTRA. Tampilkan semua postingan

Sengkarut Masalah Budaya (2)

JIKA sebelumnya, Pojok Literasi Indonesia membahas kebudayaan menurut perspektif Bung Karno. (Baca: Sengkarut Masalah Budaya 1). Maka kali ini, penulis akan menampilkan kajian budaya menurut Bapak Pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara.

Menurutnya, kebudayaan merupakan buah budi manusia adalah hasil perjuangan manusia terhadap dua pengaruh kuat, yakni alam dan zaman (kodrat dan masyarakat) yang merupakan bukti kejayaan hidup manusia untuk mengatasi berbagai rintangan dan kesukaran di dalam hidup dan penghidupannya guna mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang pada lahirnya bersifat tertib dan damai. Karena itu, pemilik nama asli R.M Suwardi Suryadiningrat berpendapat bahwa kebudayaan adalah instrumen penting yang berkaitan erat dengan pendidikan.


Atas derasnya gempuran budaya asing yang kian menggerus budaya asli Indonesia, Pendiri Taman Siswa ini menelurkan teori Trikon sebagai jawabannya. Trikon (3 kon-) yang ia maksud adalah kontinyu, konverger, dan konsentris. Lewat konsepsi Trikon ini pula, Ki Hajar bermaksud agar budaya asli Indonesia tetap lestari.


Lalu apa yang dimaksud dengan Trikon?
1. Kontinyu, artinya uppaya pelestarian kebudayaan asli Indonesia harus dilakukan secara terus menerus dan berkesinambungan. Teori ini bisa diimplementasikan melalui pengajaran muatan lokal di sekolah-sekolah, juga dengan menjaga tradisi, upacara-upacara adat, pementasan kesenian daerah, dan lainnya.


2. Konverger. Dalam hal ini, Ki Hajar mengajak agar Indonesia tidak perlu takut dengan masuknya budaya asing. Namun demikian, akulturasi tersebut harus terjadi secara perlahan tanpa paksaan (adaptif). Ki Hajar menilai, semua kebudayaan pasti memiliki nilai positif. Karenanya, Indonesia harus bisa memilih dan memilah value tersebut dan memadukannya dengan budaya Indonesia. "TAKE THE GOOD VALUE," kata dosen penulis.


3. Konsentris, artinya dalam pergaulan dengan bangsa-bangsa lain di jagat raya ini, Indonesia harus berusaha menyatukan budaya nasional dengan kebudayaan dunia. Dengan catatan, Indonesia harus tetap memegang karakter dan kepribadiannya sendiri, budaya yang Pancasilais.


Terakhir, penulis menilai, teori Trikon ini sebenarnya tidak hanya ditujukan untuk kebudayaan saja. Lebih jauh, teori ini bisa juga diaplikasikan pada aspek politik, ekonomi, ilmu pengetahuan, dan lainnya.
Jujur atau tidak, saat ini kondisi politik, ekonomi dan kebudayaan Indonesia sangat memprihatinkan. Ekonomi tidak mandiri, politik tidak berdaulat, dan budayanya jauh dari kepribadian bangsa. (cho)

Suarakan Peristiwa 1965 Lewat Sastra


PEREMPUAN itu sibuk menari-nari di pojok ruangan. Dibukanya rok yang ia kenakan, lalu digantungnya di dinding persis disampingnya saat menari. Ia menari-nari, berlenggok, bak orang yang tak tahu situasi di tengah lilin merah yang menerangi seluruh ruangan.

Makin tak jelas saja, perempuan itu menari tanpa motif. Bergerak bebas, mebuat semua orang yang menyaksikan tariannya tersentak-sentak. Apalagi, saat ia memotong-motong rambutnya dengan sebilah pisau. Rambut indahnya itu, kemudian dibakar menggunakan lilin yang meneranginya saat menari.

Di pojok lain, seorang lelaki sibuk memegang sebuah mayat. Tak jelas jasadnya siapa, entah itu bapaknya, ibunya, istrinya atau temannya. Yang pasti, leher mayat itu telah terlilit seutas kawat. Kawat yang ujung satunya menempel di salah satu tiang itulah yang menjadi alat pencabut nyawa si mayat. Lelaki itu meratap-ratap, hingga air matanya tak bisa lagi keluar, mungkin sudah kering.

“Ahhhh,” desah lelaki lain yang ada di bawah meja. Kepalanya tengah diinjak kaki meja.

Lelaki itu hanya bisa merintih, tak bisa melawan sedikitpun. Hanya meronta-ronta, mendesah. Mau minta tolong juga percuma. Tubuhnya sudah lunglai, kepalanya hampir pecah. Lelaki itu sunggung sudah lunglai tak berdaya. Jangankan untuk melawan,  suaranya saja kalah dengan suara heningnya malam. Giginya sudah dicabuti dengan tang, kepalanya diinjak, tubuhnya disiksa.

Sementara, di meja yang kakinya digunakan untuk menjepit kepala lelaki itu, ada seorang psikopat yang sedang duduk mengintrogasi. Lelaki itulah yang tega menyiksa ketiga tahanan tersebut. Dengan mesin ketik usang, ia sibuk mengetik laporan perihal ketiga tahanan yang ada di ruangannya itu.

“Aku makan ekstasi, inex, biar berani,” terdengar suara alasan kenapa si lelaki pembantai itu tega menjadi pencabut nyawa bak malaikat Izrail. Setelah puas membantai para tahanan, lelaki itu lalu mengambil beberapa lembar karung.

Nampaknya, karung-karung itu akan digunakan untuk memasukkan mayat para tahanan jika nanti mereka mati akibat siksaan. Benar saja, mengenakan kacamata Elvis, topi cowboy dan jaket kulit, ia kemudian menghampiri semua tahanan dan menyarungkan karung ke kepala para tahanan hingga mereka tak bisa bernafas.

****

Begitulah adegan demi adegan performance art yang ditampilkan oleh empat anggota teater ARTeri pada #Reboan Jaker, Rabu (18/2). Grup teater asal Kota Bekasi tersebut menyebut ‘Tukang Kacamata dan Penggemar Elvis’ sebagai judul karya performance art yang terinspirasi dari pembantaian 65 itu.

“Penampilan ini diinspirasi oleh tragedi pembantaian PKI pada tahun 65 lalu. Kita ingin menyuarakan tragedi yang sangat memilukan ini lewat penampilan teater,” kata ketua teater ARTeri, Dendi.

Naskah ‘Tukang Kacamata dan Penggemar Elvis’ sendiri terinspirasi dari film The Act Of Killing (Jagal) dan The Look of Silence (Senyap). Dua film dokumenter garapan Joshua Oppenheimer itu, kata Dendi, berhasil menguak sejarah kelam yang pernah diterima oleh anak bangsa ini. Selain juga, menginspirasi seniman untuk giat mengkampanyekan cerita asli dari tragedi yang menewaskan jutaan rakyat Indonesia itu.

“Film Joshua itu mengajarkan saya betapa kejamnya PKI dibantai. Yang pelajaran itu tidak saya dapatkan di sekolah,” jelasnya.

Sementara itu, Adek Ceeguk yang berperan menjadi perempuan yang sibuk menari dalam performance art ini menjelaskan, perannya itu menyimbolkan betapa sengsaranya para korban tragedi genosida terbesar yang ada di Indonesia tersebut.

“Membakar-bakar rambut itu melambangkan seorang korban sangat frustasi. Masa saya harus (berperan) membakar diri, jadi rambut saja yang saya bakar,” ucapnya.

Ditambahkan oleh Ricky yang menari dengan patung kepala, perannya lebih menonjolkan bagaimana para tahanan atau orang yang tertuduh PKI itu dibantai. “Misalnya, seperti di film Jagal itu, ada yang lehernya dililit oleh kawat hingga mati, dan masih banyak cara membunuh para tahanan dengan sadis,” ungkapnya.

Hal yang senada disampaikan oleh Fidel. Pria yang memerankan tahanan yang kepalanya diinjak oleh kaki meja itu juga menyimbolkan betapa tersiksanya korban 65 akibat siksaan yang diberikan oleh para jagal. Fidel mengakhiri perannya dengan mengambili sampah dan mencuci kaki semua penonton.

“Itu juga saya ambil dari film Jagal. Dimana Anwar Congo (yang menjadi jagal,red) itu, tidak bisa tidur kalau belum membasuh kaki. Karena selalu terbayang-bayang dengan korban yang ia bunuh,” imbuhnya.

Sebelumnya, Ketua Umum Jaringan Kebudayaan Rakyat (Jaker) Tejo Priyono sendiri mengatakan karya teater Arteri ini sangat menghentak dan membuat para penonton terkagum-kagum. Teater Arteri berhasil membungkus sejarah 1965 lewat teater dengan sangat apik. Ia berharap, para seniman Indonesia kedepan lebih aktif membongkar sejarah yang ditutup-tutupi bahkan dimanipulasi oleh penguasa. Hal ini bertujuan agar budaya lama bisa digantikan dengan kebudayaan baru yang anti pada militerisme, feodalisme dan kapitalisme.

“Tragedi 65 itu adalah lautan inspirasi yang luas untuk dunia sastra. Kedepan Jaker juga akan membukukan karya sastra untuk mengenang kembali tragedi ini,” pungksanya. (cho)

Juga dipoting di: berdikarionline

Impian Gadis Malam

 

RUSUK tulang seakan dibuat beku oleh keheningan malam. Di sudut jalan, jam masih terpaku rapi di atas tugu penanda kota. Pukul 03.00 dini hari. Lampu-lampu temaram yang sedari sore sudah memancarkan redup cahaya ditepi jalan itu semakin menambah suasana hati Susan bertambah mengharu biru.
“Tuhan haruskah aku akan terus seperti ini menjalani kehidupan yang hati nuraniku sendiri tak mampu untuk menerima. Yaa.. kupu-kupu malam, aku sudah bosan dengan semua ini, sungguh pelik kehidupan di kota jahanam ini.. Sambil terus menahan isak yang tertahan dan menunda senyum yang seharusnya dapat terbersit Susan terus berjalan.. batinnya mengumpat akan bejatnya kehidupan.
Di tengah kegalauan ,tiba-tiba Nissan biru berhenti disebelah Susan.
“Mbak mau kemana? Sudah malam kok jalan sendiri mari bareng” sapa sesosok laki-laki yang ada didalam nisan itu.
“Oh… “sembari senyum Susan terus berlalu dengan jerit hatinya.
Si Nissan biru itu terus mengikutinya. Setelah lama menyusur kepedihan akhirnya Susan tiba disebuah taman, di tepi jalan. Ia berhenti. Sejenak ia membiarkan matanya yang sudah mulai terserang kantuk menyapa jalanan kota ini.
Tak seperti kebanyakan laki-laki yang biasa menghampiri Susan, pemuda yang berada di Nissan biru tadi sungguh santun. Ia menyapa Susan lalu duduk di sebelahnya.
“ Endi,“ pemuda tadi mengenalkan diri kepada Susan.
Setelah saling bercakap, bersenda,dan akhirnya mereka berdua kelihatan seolah karib yang lama tak pernah bersua. Ini tentunya bukan hal yang aneh buat Susan sebab dalam setiap malamnya dia bisa akrap dengan sembarang mahluk yang namanya laki-laki. Tapi Endi serasa membuat jeratan hati susan yang sedari tadi dirundung kemelut seakan tersentak dan di dalam sanubarinya. Ia menggumam. Pikirnya Endi lain dari kebanyakan kaum adam yang dia temui setiap malam. Akhirnya setelah beberapa kali mendengar kokok ayam yang menyambut mentari,S usan naik ke nissan biru itu.
“Dimana rumahmu? “ tanya Endi.
“Blok M,” jawab Susan.
Dan nisan itu melaju kearah blok M.
Dua minggu berlalu, hampir setiap subuh Endi mengantar Susan pulang ke rumah. Lama tapi pasti perasaan itu melekat dalam sanubari Susan. Endi, endi dan endi.
Banyak sudah cerita yang dirajut bersama. Susan akhirnya berhasil lepas dari jeratan dunia hitam yang selalu mengungkungnya atas bantuan Endi. Ia lepas dari kubangan itu.
Kini, kehidupan Susan telah berubah 180 derajat dengan pekerjaanya yang baru sebagai pelayan toko. Ia seakan kembali menemukan kehidupanya yang pernah hilang 5 tahun yang lalu. Meskipun penghasilan Susan tak lebih dari Rp 500.000 setiap bulannya. Tapi senyum selalu membias di bibirnya.
Malam itu, didepan sebuah cafe ternama di bilangan blok M, tepat ketika susan tengah berjalan pulang dari tempat kerjanya kebetulan tak ada ojek atau taksi yang melintas dia bertemu dua orang laki-laki dijalan itu.
“Masih ingat aku?” tanya salah seorang dari kedua laki-laki itu
“Oh.. “ sambil mengingat-ngingat orang yang di depanya Susan mencoba kembali membuka semua memori yang sempat dia kubur.
“Alex?” tanya Susan terbata.
“San bisa nggak kamu temani aku malam ini?” pinta Alex.
“Eeee… maaf… aku nggak bisa” Susan mencoba menolak.
“Dah. jangan jual mahal berapa tarifmu sekarang?” Alex memaksa.
“Maaf lek aku benar-benar nggak bisa!” Susan ketakutan.
“Wah sudah jadi cewek alim sekarang!!” Ejek Alex.
Setengah memaksa Alek menarik tangan susan dan mencoba membawanya ke mobil nya. Dan di saat yang bersamaan itu pula nissan biru milik Endi berhenti tepat didepan mereka bertiga.
“ Hentikan….!! lepaskan cewek itu!!!!” Endi terdengar berteriak
Alek yang sudah disusupi nafsu bejatnya tidak menggubris kata-kata Endi
“Lepaskan!!!” Kembali Endi membentak
“Ooo... siapa kamu ? Berani-berani melarang kami ucap teman Alek yang juga sudah dirasuki iblis.
Tanpa basa basi, tiba-tiba teman Alek melayangkan sebuah tinjuan kearah Endi..
Perkelahian pun terjadi dengan tidak seimbang
Pada saat Endi terdesak tiba-tiba Alex mengeluarkan sebilah pisau dari balik bajunya..
Satu detik kemudian pisau yang dipegang Alex telah mendekam di perut Endi tanpa bisa dihindar. Darah memuncrat melumuri baju putih yang dikenakan Endi.
“Endi…!!!” teriak susan histeris
“Lari.. !! teriak Alek pada temanya..
“Tolong!!” Susan mencoba meminta bantuan pada orang yang mungkin lewat disekitar daerah itu..
“Toloooong..!!” raung Susan kuat.
Sambil memangku dan mencoba menghentikan aliran darah yang terus mengucur dari tubuh endi, Susan terus berteriak..Beberapa saat kemudian beberapa masyarakat berdatangan ditempat itu. Endi bertahan.
“Endi bertahan… pertolongan sudah datang..” Susan menangis.
Susan memegang tubuh Endi yang mulai lemas didalam ambulance.
“Aku mencintaimu Susan, “ ucap Endi lirih lalu pelahan menutup mata untuk selamanya.
Langit gelap menggelayut. Waktu seakan terhenti. Angin seakan enggan bertiup lagi dan petirpun menggelegar mengiringi kepergian Endi. Dengan tubuh terkulai lemas Susan memegangi tubuh Endi yang berlumuran darah. Susan kelu menatap Endi terbaring beku di pangkuannya. Ia diam. Diam merelakan cinta yang terbawa bersama kematian Endi.
“Adakah cinta dan kehidupanku yang tak berujung airmata? “ kalimat Susan terbaca di hatinya.

Petik Laut, Bentuk Syukur Rakyat Banyuwangi

POJOK LITERASI - Kapal-kapal berjajar dengan hiasan yang cukup indah, berbagai motif dan nilai seni berpadu disana. Sungguh paduan nilai seni yang tiada tara, wujud dari estetika kelokalan yang  luar biasa indahnya. Tua muda berkumpul menjadi satu, dari semua kampung bersama menyatu menjadi satu berbaur dengan semangat suka cita yang di ekpresikan dengan ungkapan syukur akan nikmat yang dilimpahkan dari alam untuk umat manusia.

Pesta rakyat Petik laut Muncar begitu biasa orang menyebutnya, ya muncar adalah nama salah satu kecamatan yang ada di ujung paling timur pulau jawa tepatnya di kabupaten banyuwangi jawa timur. Tradisi petik laut  sudah ada sejak muncar berkembang menjadi pusat kegiatan penangkapan ikan. Pada mulanya upacara dilaksanakan berdasarkan pranatamangsa, kemudian dilaksanakan setiap bulan Sura sekarang ditetapkan setiap tanggal 15 sura.

Upacara ini bernilai sakral dengan acara puncaknya adalah melarung perahu kecil yang berisi sesaji yang terdiri dari kepala kambing, berbagai macam kue, buah- buahan, pancing emas, candu dan dua ekor ayam jantan yang masih hidup.
Pada malam harinya, di tempat perahu untuk sesaji dipersiapkan dilakukan tirakatan. Di beberapa surau atau rumah diadakan pengajian atau semaan sebelum perahu dilarung, tirakatan berupa doa bersama mempunyai tujuan agar  nelayan dijauhkan dari musibah malapetaka, fitnah, serta diberikan ketentraman dan kemudahan dalam mencari rejeki atau dalam tradisi masyarakat dibanyuwangi sering diungkapkan dengan ungkapan supoyo adoh bilahine, cepak rejekine, slamet sak sobo parane, guyub rukun bebrayane, gampang anggone luru sandang pangan, kalis saking sakabehe sambikolo (supaya dijauhkan dari petaka, di dekatkan rezeki, selalu diberi keselamatan kemanapun kaki melangkah, rukun dalam bermasyarakat, dimudahkan dalam menjacari penghidupan, terhindar dari segala musibah).

Setalah itu paginya  perahu sesaji tersebut diarak diperkampungan, dan kegiatan ini disebut dengan idher bumi. Selanjutnya perahu tersebut dilarung diiringi oleh ratusan perahu nelayan yang dihiasi dengan umbul-umbul. Perjalanan diteruskan ke Sembulungan, ke makan Sayid yusuf, orang pertama yang membuka daerah tersebut. Disinilah biasanya tari gandrung di pentaskan. Sepulang dari sembulungan perahu nelayan yang akan mendarat di guyur dengan air laut yang di gambarkan sebagai guyuran Shang Hyang Iwak, sebagai Dewi laut.

Perhelatan pesta rakyat daerah pesisir di Muncar, Kabupaten Banyuwangi.  sekarang, dipakai juga sebagai satu  wahana budaya dan tradisi masyarakat nelayan di Kecamatan Muncar dampak positif lain saat ini Petik Laut juga menjadi sebuah sarana untuk menggali kembali berbagai potensi lokal seperti kesenian lokal, aneka perlombaan (gerak jalan, panjat pinang, lomba dayung, jalan sehat) yang melibatkan hampir semua lapisan masyarakat di Muncar. Rangkaian kegiatan ini juga disertai pesta rakyat dengan pasar malam dan aneka hiburan seperti dangdut, gandrung tarian tradisional banyuwangi warisan suku osing dan tayub dan budaya lokal lainya.

Petik laut yang dilaksanakan setiap tanggal 15 bulan Suro dalam kalender Jawa ini, tidak sekadar agenda rutin nelayan Muncar tetapi sudah menjadi salah satu aset budaya Kabupaten Banyuwangi. Hampir setiap tahun kegiatan ini selalu menyedot perhatian banyak masyarakat, tidak hanya warga Banyuwangi, tapi juga masyarakat luar daerah. Tentunya ini salah nilai budaya yang harus terus dipertahankan dan diharapkan mampu membarikan manfaat bagi penduduk sekitar atau lebih jauhnya busi menjadi daya tarik wisata di kabupaten banyuwangi. SEMOGA. (edi)

NGABEN, Spirit Budaya Bali


Siang itu banyak ratusan orang berkumpul, dianatara kumpulan orang-orang terlihat banyak orang berkulit putih dengan psotur tubuh tinggi yang berbeda dengan kebanyakan masyarakat di sana yang berkulit sawo matang, rata-rata ditangan mereka memegang sebuah poket atau handycam.

Rupanya siang itu tengah diadakan upacara ngaben. Tradisi adat di pulau bali yang samapai hari ini masih terpelihara dengan baik. Bahkan kini menjadi sebuah daya tarik pariwisata yang menarik banyak turis mancanegara tanpa meninggalkan arti penting upacara tersebut.

Ngaben atau jamak disebut sebagai upacara pembakaran mayat (kremasi) dilakukan oleh penduduk yang memeluk agama Hindu di pulau Bali. Dalam kepercayaan Hindu Ngaben merupakan suatu ritual yang dilaksanakan guna mengirim jenasah kepada kehidupan mendatang. Jenasah diletakkan selayaknya sedang tidur, Tidak ada airmata, karena jenasah secara sementara waktu tidak ada dan akan menjalani reinkarnasa atau menemukan pengistirahatan terakhir di Moksha (bebas dari roda kematian dan reinkarnasi).

Di Bali, biasaya hari pelaksanaan Ngaben ditentukan dengan mencari hari baik yang ditentukan oleh Pedanda (pemuka di bali). Upacara Ngaben biasanya dilaksanakan oleh keluarga sanak saudara dari orang yang meninggal, sebagai wujud rasa hormat seorang anak terhadap orang tuanya.
Sebelum upacara Ngaben dimulai, segenap keluarga dan handai taulan datang untuk melakukan penghormatan terakhir dan biasanya disajikan sekedar makan dan minum. Selain itu oleh masyarakat lokal d ibali ngaben juga di percayai sebagai proses penyucian roh dgn menggunakan sarana api sehingga bisa kembali ke sang pencipta yaitu Brahma. Api yg digunakan adalah api konkrit untuk membakar jenazah, dan api abstrak berupa mantra pendeta untuk mem-pralina yaitu membakar kekotoran yg melekat pada atma roh. Kenapa demikian karna Dalam Hindu diyakini bahwa Dewa Brahma disamping sebagai dewa pencipta juga adalah dewa api.

Untuk menanggung beban biaya, tenaga dan lain-lainnya, kini masyarakat sering melakukan pengabenan secara massa bersama. Jasad orang yang meninggal sering dikebumikan terlebih dahulu atau disimpan nanti setelah biaya yang dikumpulkan secara bersama-sama sudah terkumpul baru dilakukan prosesi ngaben. Dalam prakteknya Prosesi ngaben dilakukan dgn berbagai proses upacara dan sarana upakara berupa sajen dan kelengkapannya dengan berbagai simbol-simbol seperti halnya ritual lain yg sering dilakukan umat Hindu. Selain Ngaben dilakukan untuk manusia yang masih ada jenazahnya, orang yang meninggal dan jasadnya tidak ditemukan juga dilakukan prosesi ngaben sebagai contoh mereka yang tewas terseret arus laut dan jenazah hilang ditelan ombak, kecelakaan pesawat yang jenazahnya sudah hangus terbakar. Untuk prosesi ngaben yang jenazahnya tidak ada dilakukan dengan membuat simbol dan mengambil sekepal tanah dilokasi meninggalnya kemudian dibakar.

Ada berbagai tahapan dilakukan dalam ngaben. Diawali dengan memandikan jenazah, ngajum, pembakaran sampai  nyekah. Setelah didapat hari H (pembakaran jenazah), maka pihak keluarga akan menyiapkan ritual pertama yaitu nyiramin layon(memandikan jenazah). Jenazah akan dimandikan oleh kalangan brahmana kelompok yang karena status sosialnya mempunyai kewajiban untuk itu. Selesai memandikan, jenazah akan dikenakan pakaian adat Bali lengkap.

Selanjutnya adalah prosesi ngajum, yaitu prosesi melepaskan roh dengan membuat simbol simbol menggunakan kain bergambar unsur-penyucian roh. Selanjutnya Pada hari H-nya, dilakukan prosesi ngaben di kuburan desa setempat. Jenazah akan dibawa menggunakan wadah, yaitu tempat jenazah yg akan diusung ke kuburan. Wadah biasanya berbentuk padma simbol rumah Tuhan. Sampai dikuburan, jenazah dipindahkan dari wadah tadi ke pemalungan, yaitu tempat membakar jenazah yg terbuat dari batang pohon pisang ditumpuk berbentuk lembu.

Disini kembali dilakukan upacara penyucian roh berupa pralina oleh pendeta atau orang yg dianggap mampu untuk itu (biasanya dari clan brahmana). Pralinaadalah pembakaran dgn api abstrak berupa mantra peleburan kekotoran atma yg melekat ditubuh. Kemudian baru dilakukan pembakaran. Umumnya proses pembakaran dari jenazah yg utuh menjadi abu memerlukan waktu 1 jam. Abu ini kemudian dikumpulkan dalam buah kelapa gading untuk dirangkai menjadi sekah. Sekah ini yg dilarung ke laut, karena laut adalah simbol dari alam semesta dan sekaligus pintu menuju ke rumah Tuhan.

Dalam kepercayaaan di bali secara umum, orang Bali merasakan bahwa roh yang lahir kembali ke dunia hanya bisa di dalam lingkaran keluarga yang ada hubungan darah dengannya. Lingkaran hidup mati bagi orang Bali adalah karena hubungannya dengan leluhurnya.  Setiap orang tahu bahwa di satu saat nanti dia akan menjadi leluhur juga, yang di dalam perjalannya di dunia lain harus dipercepat dan mendapatkan perhatian cukup bila sewaktu-waktu nanti kembali menjelma ke Pulau yang dicintainya, Pulau Bali. (**)


Ditulis Oleh:
Edi Susilo, Penggiat Pojok Literasi Indonesia

Dasar Kampret…!

Gila ni hari panas banget. Panas yang tak terperih. Enakan musim hujan biarpun dingin, kan bisa pake jaket. Kalau panas kaya gini, mau telanjang bulat tetep aja panas. Tapi ingat kejadian di kelas tadi, malah serasa hujan salju. Jadi ceritanya gini, Fandy cowok cute dari kelas sebelah, nyamperin aku, Dia ngajakin kenalan bo. Siapa juga yang gak kaget? Oya, perkenalkan dulu, namaku Rara. Aku duduk dibangku SMA kelas 3. Aku bukan cewek popular disekolah. Aku gadis yang biasa, sangat biasa malah. Selama 2 tahun di SMA tak ada cowok yang kasih perhatian lebih ke aku. Emang sih soal otak aku rada-rada tokcer. Tapi semua itu seolah ketutup sama tampangku yang kucel. Bayangin deh, aku gadis yang kurus, saking kurusnya sampe mirip papan cucian. Rambutku lurus, tapi tipis banget. Kulitku sangat jauh dari kinclong. Gigiku porak poranda, makanya aku pake kawat gigi. Sekarang kebayangkan gimana amburadulnya penampilanku? Lha terus ini gak ada gempa gak ada banjir, Fandy ngajakin kenalan. Dia bilang kalau dia suka perhatiin aku. Dia juga bilang kalau aku manis. Emaaaaak......, ternyata fandy rabun!
Singkat kalimat singkat paragraph kita jadi sobatan. Uh, siapa sih yang gak GR? Sebenarnya Fandy gak masuk daftar cowok-cowok keren di sekolah. Tapi dia juga bukan cowok kuper. Tapi bagiku dia adalah pangeran tampan yang menunggang sepeda kumbang. Iya, soalnya sepeda ontel buntutnya selalu setia setiap saat.
Fandy itu baik banget, perhatian, pokoknya kaya difilm-film india gitu deh. Kadang kita kejar-kejaran dilapangan upacara, atau muter-muter ditiang bendera . sampai kita berdua sering dipanggil keruang BK. Masalahnya sih sepele, kepala sekolah fikir, aku dan fandy kesurupan.
Ada yang bahagia ada yang susah. Ada yang setuju ada yang ngak setuju.Begitu pula hubunganku dengan fandy. Temen-temen deketku pada mulai kasah-kusuk, termasuk sobat kentalku Dinar.Yah kupikir mereka sebenarnya Cuma sirik aja.
“Ra, apa gak sebaiknya kalo elo jangan terlalu akrab dan percaya ma fandy?” Siang itu Dinar mulai meracuni fikiranku lagi.
“Emang kenapa sih? Fandy kan bukan penjahat, dia juga gak punya potongan criminal kok. Yang ada malah dia itu potongan bebek angsa masak dikuali…………….”
“Ih gak lucu.pokoknya mending jangan terlalu deket deh. Gue mencium gelagat yang kurang baik.”
“Oya?”jawabku sambil mengendus-endus udara.
“Eh bener Din. Gue juga mencium bau yang kurang sedap. Tapi kayaknya ini bau kaos kaki elo deh!”
“Sialan! Ra, elo gak ngrasa ya kalau selama ini dia sudah morotin duitmu?
Morotin duit? Iya juga sih. Kenapa baru kefikiran sekarang ya? Kemaren pas makan berdua di kantin , aku yang bayarin. Fandy bilang kalau dompetnya ketinggalan di kelas. Kemarinnya lagi pas beli siomay aku juga yang bayar. Terus kemaren kemarennya lagi iya, kemaren kemaren kmarennya lagi juga iya. Ampyuun, kok bisa ya? Belum lagi duit yang udah dia pinjem. Mulai dari 1000 sampe 50.000. tapi gak papa lah .itu semua akan terbayar kalau besok aku udah jadi pacarnya. Dan saat saat indah itu sebentar lagi pasti akan datang.
Pagi harinya Fandy menarik tanganku ketaman sekolah. Katanya ada hal penting yang mau diomongin. Pasti dia mau nembak aku. Pasti!
“Ra gue mau ngomong.”
“iya. Ngomong ja Ndy. Gak usah malu” aku mulai GR.
“Tapi elo gak akan marah kan?”
“Gak kok. Mang da pa sih?”
“Sebelumnya gue minta maaf kalau nanti ada kata kata yang menyinggung perasaan lo. Gue tahu ini terlalu cepat dan terlalu lancang. Tapi gue udah gak bisa menyimpannya terlalu lama, keburu basi. Gue …
“Iya elo kenapa?” tuh kan bener. Pasti dia mau ngomong kalau dia butuh aku, gak bisa jauh dari aku dan pingin kita jadian.
“Gue butuh…..”
“Butuh apa ndy?”
“Gue butuh……duit lima ratus ribu. Gue pinjaem dulu, elo ada kan? Gue punya utang sama Rio. Cumae lo yang bisa nolongin gue.”
“Huwaaaaa………….Fandy!!! dasar kampret lo!”


Ditulis oleh:
Haning (Majalah Pendapa Tamansiswa)

Bawa Salju Itu

Asmara berkuncup memang indah
Menelan setiap ludah yang tergiur gundah
Kemolekan terserabut ngeri
Bisik hati berpaut birahi

Perlahan kau datang menghampiriku
Menawarkan secangkir madu
Didalam untaian senyum yang terus memaksaku
Untuk segera tunduk pada libidoku

Aku memang mencintaimu
Ungkap ku dalam hati
Tatkala iblis berbisik padaku
Semburat wajah itu terus menghakimiku
Dalam pintamu, engkau mendasau nafas mu

Uhhh….. lirih
Aku bingung
Haruskah malaikat mencoba menasehatiku

Cinta bukan alasan
Cinta bukan menghalalkan
Cinta bukan keabsahan

Balutkan kembali mahkota itu
Bawa slalu salju
Biarkan aku terbang dengan khayalanku.

Yogyakarta, 2008
Edi Susilo