Tampilkan postingan dengan label BERITA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BERITA. Tampilkan semua postingan

Menteri Susi dan Jeritan Nelayan


AKSI massa yang dilakukan nelayan di daerah-daerah harusnya menjadi perhatian serius oleh pemerintah dalam hal ini Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti. Dengan jamaknya demonstrasi para nelayan tersebut, menunjukkan kebijakan-kebijakan yang digelontorkan oleh pemilik Susi Air ini tidak pro terhadap nelayan.
Umumnya, para nelayan tersebut menolak Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 2 Tahun 2015 tentang Larangan Penggunaan Pukat Hela dan Tarik di Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia. Terlebih lagi, Menteri Susi tersebut tidak mencantumkan alat tangkap ikan apa yang dapat digunakan para nelayan akibat adanya peraturan itu. Karena itu, para nelayan menganggap mantan Presiden Direktur PT ASI Pudjiastuti Marine Product tersebut hanya melarang tanpa memberikan solusi.
Beberapa hari yang lalu misalnya, tak kurang dari 100 nelayan Kota Bengkulu yang tergabung dalam Jangkar Mas melakukan demo sembari peraturan tersebut dicabut. Belum lagi, beberapa para nelayan ditangkap dan kapalnya ditenggelamkan karena menggunakan trawl. Padahal, para nelayan itu mengaku selama ini tidak pernah mendapatkan sosialisasi perbedaan antara trawl dan cantrang.
Mereka bilang, nelayan mencari ikan bukan untuk mencari kekayaan, melainkan untuk biaya hidup anak dan istri serta biaya sekolah anak-anaknya.
Tak hanya di Bengkulu, puluhan nelayan dari di Jatim ternyata juga menggelar aksi protes menolak kebijakan Menteri Susi Pudjiastuti tersebut. Mereka bahkan meminta Presiden Jokowi memecat Menteri yang lahir di Pangandaran, 1965 lalu itu. Pasalnya, mereka menilai Menteri Susi sudah tidak pro kepentingan nelayan.
Selain menolak Permen No 2 tahun 2015, para nelayan tersebut juga meminta agas peraturan No 1 tahun 2015 dicabut. Dimana, peraturan tersebut menegaskan para nelayan dilarang untuk menangkap lobster (Panulirus), Kepiting (Scylla) dan Rajungan (Portunus Pelagicus) dalam kondisi bertelur. Dengan adanya peraturan tersebut, nelayan Indonesia dianggap sebagai pencuri yang harus berhadapan dengan penegak hukum.
Di Malang pun demikian. Para nelayan yang ada di Malang menyampaikan alat pukat tarik yang digunakan selama ini memang sudah turun temurun digunakan nenek moyang nelayan. Jika dilarang, maka akan ada jutaan nelayan yang kehilangan pekerjaan.
Selain Bengkulu, Malang, Jatim,  demonstrasi lainnya juga dilakukan para nelayan yang ada di Jawa Tengah. Bahkan, bisa dibilang demo tersebut terjadi hampir di semua daerah. Bahkan, para nelayan tersebut juga sempat menyambangi istana negara untuk menyampaikan aspirasinya. Bisa disimpulkan, semua nelayan tersebut merasa sangat terbebani dengan aturan yang dikeluarkan oleh Menteri Susi tersebut. Karena itu, mereka menuntut agar Jokowi mencopot Menteri Susi.
Menteri Susi sendiri tak gentar menghadapi jamaknya penolakan atas kebijakannya tersebut. Bahkan, ia menyatakan pemerintah pusat tidak akan memberikan bantuan kepada nelayan jika masih menggunakan trawl (pukat harimau).
"Kalau masih ada trawl kita tidak akan beri bantuan, sita jaringannya. Pemerintah harus kerja, saya akan tarik seluruh bantuan kalau masih ada trawl," ujar Susi seperti dilansir dari Setkab.
Selain itu, enggannya mencabut aturan pelarangan alat tangkap cantrang yang terkandung dalam Permen Nomor 2 Tahun 2015 karena Permen tersebut tidak bertentangan dengan aturan sebelumnya. DImana, Perpres tentang pelarangan penggunaan cantrang sebenarnya sudah ada sejak 1980. Karena itu, Permen tersebut menurutnya bukan buatan dia, melainkan hanya penegasan dari Perpres tersebut.
Susi mengungkapkan, pemerintah juga telah memberi anggaran pasca penerapan kebijakan tersebut. Tak hanya itu, ia bilang dari peta kelautan dan perikanan di Indonesia. Sudah jelas wilayah-wilayah yang mana saja yang dilarang menggunakan alat tangkap cantrang.
Ia menilai, pelarangan alat tangkap cantrang bukan ditujukan untuk mematikan bisnis para nelayan atau pengusaha di sektor kelautan dan perikanan. Akan tetapi lebih kepada menyelamatkan keberadaan para nelayan. Karena 10-20 tahun ke depan, jika alat tangkap yang berbahaya tersebut masih digunakan, orang tidak mau jadi nelayan karena SDA-nya sudah tidak ada lagi.
Pasalnya, dengan alat tangkap tersebut semuanya diambil, dasar laut dikeruk. Parahnya lagi, kata Susi, trawl itu kebanyakan yang dibuang dibandingkan diambil. Dari 5 ton itu yang diambil 4 ton. Singkatnya, peraturan tersebut selain untuk melindungi laut Indonesia beserta SDA-nya, lanjut Susi, juga untuk melindungi nelayan itu sendiri. (**)

Tedi Cho
Warga Nusantara

Menanti Kebijakan Jokowi untuk Newmont

Tanggal 3 maret 2015 menjadi batas waktu bagi amandemen kontrak PT Newmont Nusa Tenggara (PT NNT), terkait dengan kewajiban Perusahaan AS tersebut dalam menjalankan Pasal 170 UU Minerba yang berbunyi: "Pemegang kontrak karya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 169 yang sudah berproduksi wajib melakukan pemurnian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 103 ayat (1) selambat-lambatnya 5 (lima) tahun sejak Undang-Undang ini diundangkan".
Tapi, pemerintah Jokowi diprediksi akan mengambil kebijakan yang kompromistis dengan perusahaan tambang asal Amerika Serikat tersebut. Pemerintahan Jokowi tampaknya akan kembali membegal UU Nomor 4 Tahun 2009 tentang Mineral dan Batubara (Minerba).
"Caranya adalah dengan menggunakan menerbitkan Memorandum of Understanding (MoU) atau nota kesepakatan antara Kementrian ESDM dengan Perusahaan Tambang raksasa multinasional tersebut.
Batas waktu bagi  PT Newmont untuk menjalankan kewajibannya sesuai UU Minerba sebenarnya sudah berakhir Januari 2014 lalu. Namun hingga saat ini belum ada sinyal apakah perusahaan tambang terkaya di dunia yang salah satu operasi terbesarnya di Indonesia ini akan menunaikan semua kewajibannya. Rencana pembangunan smelter atau pabrik pemurnian tembaga tidak ada progresnya sama sekali. Demikian pula kebijakan pemerintah untuk menentukan tahapan pembangunan smelter juga sama sekali tidak terlihat.
"Padahal, rakyat sekitar lokasi tambang sudah mendesak agar smelter di wilayah Sumbawa NTB, tempat perusahaaan beroperasi."
Inilah alasan utama, dugaan kuat pemerintahan Jokowi akan kembali mengambil jalan kompromi dengan membuat MOU yang isinya ; memberi perpanjangan waktu kepada PT Newmont, mengijinkan PT. Newmont tetap melakukan ekspor, dan lain-lain.
"Cara semacam ini merupakan pembegalan terhadap Konstitusi dan UU yang berlaku, serta rawan menjadi bancakan pemerintah."
Sebelumnya Pemerintahan Jokowi telah membegal UU Minerba dengan memberikan kepada PT Freeport perpanjangan ijin eksport, kelonggaran tidak membangun smelter, hanya menggunakan selembar MOU. 

Tapi, rakyat Indonesia tentu masih berharap besar. Pemerintah Jokowi - JK ini harus memberikan kebijakan progresifnya dalam bidang migas bumi. Kita ingin pemerintah saat ini menjadi penyambung lidah rakyat. Bukan menjadi komprador yang melanggengkan kepentingan imperialis. (cho)

Serangan 1 Maret Presiden Jokowi





1 Maret harus dicatata betul dalam ingatan rakyat Indonesia. Pasalnya, pada tanggal 10 Jumadil Awal ini, presiden Jokowi kembali menggulirkan beberapa kebijakan yang menyerang jantuing ekonomi rakyat Indonesia. Yakni, menaikkan harga-harga kebutuhan pokok rakyat.

Menjelang 1 Maret harga beras melambung hingga 30 persen. Kondisi yang cukup memilukan. Pasalnya, beras masih menjadi makanan utama rakyat Indonesia. Selain itu, panen raya juga sebenarnya tak lama lagi akan menjumpai rakyat. Mendapati harga pangan pokok rakyat yang terkerek tinggi tersebut, pemerintahan Jokowi akhirnya menggelar operasi pasar. Tak hanya itu, program beras untuk rakyat miskin (raskin) juga akhirnya kembali digelontorkan untuk mengatasi masalah kenaikan ini.

(Baca juga: Harga Kebutuhan Melambung Naik)

Belum kelar mengatasi gejolak kenaikan harga beras, Jokowi malah mengambil kebijakan tak pro rakyat. Bahan Bakar Minyak (BBM) naik naik di awal Maret. Pemerintah berasalan harga dunia akan mengalami tren kenaikan pada Maret ini. Memang, pasca Jokowi memutuskan untuk mengakhiri subsidi migas, harga BBM menjadi fluktuatif dan mengikuti harga pasar dunia. Sayang, prediksi tersebut jauh dari tepat. Pada tanggal 2 Maret, harga minyak global malah turun. Sayangnya lagi, kebijakan menaikkan harga BBM tak mungkin berlaku selama sehari. Alhasil, minyak jenis premium dan pertamax tetap naik.

BBM jenis RON 88 dan RON 92 serta RON 95 tersebut memang naik tipis, sekitar Rp 200 rupiah per liternya. Namun, ongkos kenaikan tersebut sangat membingungkan baik itu konsumen juga pengusaha SPBU karena kebijakan roller coaster harga BBM tersebut sangat menyibukkan matematika keekonomian rakyat.

Tak hanya BBM, gas elpiji 12 kilogram juga ikut terkerek naik. Naiknya harga gas sebesar Rp 5.000 per tabung biru tersebut jelas ikut menyerang jantung rakyat. Lebih kejam dari serangan jantung yang sesungguhnya, karena rakyat bak ditembaki oleh riffle bertubi-tubi.

Sudah pasti, jika harga BBM dan gas naik. Harga kebutuhan pokok lainnya pasti akan ikut terseret ke atas. Biaya transportasi tinggal menunggu untuk naik. Biaya makan (konsumsi) juga sejurus dengan itu. Yang jelas, formal atau tidak, semuanya pasti ikut naik.

Selain itu, kenaikan harga BBM dan gas tersebut juga akan berimplikasi pada kondisi ekonomi Indonesia yang berada di amabang ketidakpastian. Asumsi inflasi, kebijakan suku bunga dan pengambilan kebijakan ekonomi makro lainnya juga akan susah kerena ekonomi yang selalu berubah-ubah mengikuti tren global tersebut. Padahal, Jokowi janji ekonomi harus berdikari (berdiri di kaki sendiri). 

Tak hanya itu, penetapan angka subsidi dalam APBN juga akan tertanggu. Bahkan, dana subsidi dalam APBNP 2015 sangat rawan dimanipulasi dan menjadi bancakan pemerintah yang sedang berkuasa.
Untuk perusahaan, hal ini akan semakin menyulitkan untuk merencanakan besaran upah, biaya produksi, pengeluaran, dan lain sebagainya. Ujung-ujunganya, nasib pekerja akan menjadi korban dari kesukaran tersebut. Cita-cita menyejahterakan rakyat juga akan menjadi mimpi kosong di siang bolong.

Kebijakan  migas ala yoyo Jokowi karena menyerahkan harga BBM ke mekanisme pasar tersebut, jelas melanggar konstitusi. Sebab, Mahkamah Konstitusi (MK) pada 15 Desember Tahun 2004 telah membatalkan Undang-undang Nomor 22 Tahun 2001 Pasal 28 ayat 2 tentang Minyak dan gas Bumi (Migas), yang mengatur proses pembentukan harga eceran BBM dalam negeri sepenuhnya kepada mekanisme persaingan pasar. 

Putusan MK ini menunjukkan adanya larangan penentuan harga BBM berdasarkan mekanisme harga pasar. Pembatalan ini didasari pertentangan pasal 28 ayat 2 UU Migas dengan UUD 1945 Pasal 33 yang intinya mengamanatkan cabang Sumber Daya Alam yang penting dikuasai negara untuk kepentingan rakyat. Dalam bahasa lain, kebijakan migas yoyo ala JOkowi tersebut tanpa payung hukum.

Karena itu, rakyat harus menyerukan kepada penguasa saat ini untuk tidak macam-macam mengatur ekonomi seenaknya sendiri. Sudah saatnya Indonesia kembali melaksanakan UUD 1945. Dalam hal ekonomi, semuanya sudah termaktub jelas dalam Pasal 33 UUD 45 tersebut.
Salam Sejahtera !!! (cho)

Harga Kebutuhan Melambung Naik

Akhir-akhir ini, harga kebutuhan makin melambung naik. Harga beras misalnya, melonjak sampai 30%. Hal ini membuat masyarakat kelimpungan dan resah takut kelaparan. Tak hanya itu, harga kebutuhan pokok lainnya juga ikut terseret naik. Kita bahas satu-satu.

Beras
Kenaikan harga beras yang sudah mencapai 30 persen ini sangat mengkhawatirkan. Pasalnya, tahun-tahun sebelumnya, kenaikan setinggi ini belum pernah terjadi. Saat ini, harga kebutuhan pokok masyarakat Indonesia ini, naik hingga Rp 12.000 per Kg nya untuk kualitas menengah, dari sebelumnya hanya Rp 9.000. Untuk kualitas premium, harganya sudah mencapai Rp 15.000 per kg dari sebelumnya Rp 11.000 per kilogram.

 Gas 3 Kg
Meskipun pemerintah belum menaikkan harga gas 3 kg, namun nyatanya harga eceran di lapangan sudah mulai tertarik ke atas. Menurut PT Pertamina, kenaikan terjadi di tingkat pangkalan bukan di tingkat agen. Kalau harga di tingkat agen memang ditentukan oleh perusahaan plat merah itu, tapi untuk di tingkat pangkalan ditentukan oleh Pemerintah Daerah.
Ternyata, sejak awal tahun, Pemerintah Daerah sudah menaikkan Harga Eceran Tertinggi (HET) elpiji yang lebih dikenal dengan gas melon ini. Saat ini, harga di warung sudah mencapai Rp 20.000 ribu per tabung, dari harga Rp 18.500.


Bahan Bakar Minyak (BBM)
Setelah di lepas ke harga pasar internasional dan dicabut subsidinya, harga BBM selalu berfluktuasi mengikuti harga minyak dunia. Saat ini, BBM jenis premium di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) memang tidak naik, tetap Rp 6.700 per liter. Tapi BBM yang beroktan lebih tinggi naik, seperti Pertamax 92 mulai beranjak menjadi Rp 8.050 per liter dari sebelumnya Rp 8.000 per liter.
Kenaikan ini berangkat dari kenaikan harga rata-rata minyak basis Singapura (mean of platts singapore) yang per 13 Februari kemarin berada di level USD 73 per barel, atau meningkat 5,7 persen dibandingkan posisinya di awal bulan ini.

Tarif dasar listrik
Sama dengan BBM, tarif listrik juga dilepas ke pasar (tak ada subsidi lagi). Per Januari 2015, pemerintah menetapkan tarif adjustment (penyesuaian tarif) untuk semua golongan. Tapi, kemudian pemerintah memilih untuk mengundur kenaikan tarif listrik untuk golongan rumah tangga. Sementara untuk golongan mulai dari 1.300 VA ke atas mulai disesuaikan atau naik. (cho)

Mengakhiri Privatisasi Air

Sudah terbukti, di berbagai belahan dunia, privatisasi air hanya melahirkan malapetaka. Pengelolaan air melalui mekanisme pasar terbukti gagal mendistribusikan sumber daya air secara adil dan merata kepada seluruh rakyat.

Pada hari Rabu (18/2), Mahkamah Konstitusi (MK) membatalkan seluruh isi Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air (SDA). Dalam pembacaan putusannya, MK menganggap UU SDA bertentangan dengan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945.

Keputusan MK ini patut disambut gegap-gempita oleh rakyat. Ini adalah kemenangan konstitusional bagi rakyat atas hak mereka terhadap sumber daya air. Setidaknya, dengan pencabutan UU tersebut, agenda privatisasi air di Indonesia kehilangan payung hukumnya.

Memang, praktek komersialisasi air di Indonesia sudah berlangsung lama. Sudah sejak tahun 1990-an. Namun, pada saat itu, belum ada produk hukum berbentuk Undang-Undang yang memayungi agenda tersebut. Namun demikian, swasta sudah mulai turut andil dalam bisnis pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya air di Indonesia.

Di tahun 1997, dua perusahaan multi-nasional, yakni Lyonaise/Suez Environment (Perancis) dan Thames (Inggris), mendapat konsesi untuk mengelola layanan air di Jakarta. Konsesi itu berlaku untuk 25 tahun. Itulah tonggak awal masuknya perusahaan multi-nasional dalam bisnis air di Indonesia.

Dalam kontrak tersebut disebutkan soal hak swasta untuk mendapatkan bayaran atas jasanya menyediakan layanan air. Pembayaran tersebut dilakukan melalui sistem yang disebut imbalan air (water charge). Pada kenyataannya, imbalan air selalu naik setiap enam bulan. Dan, untuk menutupinya, konsumen pun dibebani kenaikan tarif air.

Belum lagi, sejak pemberlakuan UU tersebut, ada begitu banyak sumber-sumber mata air yang dikuasai oleh swasta. Masalahnya, di tangan swasta, sumber-sumber mata air tersebut dimanfaatkan untuk kepentingan bisnis, seperti air kemasan, industri, pariwisata, dan lain-lain. Akibatnya, rakyat tidak punya lagi akses terhadap sumber daya tersebut. Ini juga yang memicu krisis air, termasuk air bersih, di sejumlah wilayah di Indonesia.

Privatisasi air memang membawa sejumlah konsekuensi. Pertama, rakyat kehilangan akses terhadap sumber daya air. Privatisasi akan menjadi pintu masuk bagi swasta untuk menguasai sumber daya air. Padahal, sumber daya air sangat vital bagi kehidupan manusia. Air merupakan kebutuhan nomor dua bagi manusia, tentunya setelah oksigen, untuk hidup. Manusia juga membutuhkan air untuk sanitasi dan kegiatan produksi (pertanian, industri, dan lain-lain). Karena itu, sumber daya air merupakan hak azasi manusia.

Kedua, pengelolaan sumber daya air di bawah mekanisme pasar ditujukan untuk menggali keuntungan (profit). Setiap orang yang hendak mengakses sumber daya air diharuskan mengeluarkan uang. Ini membawa konsekuensi: sumber daya air menjadi komoditas ekslusif yang hanya bisa diakses kaum berduit (kaya). Alhasil, rakyat yang tergolong berpendapatan menengah ke bawah akan kesulitan mengakses sumber daya air.

Ketiga, privatisasi menghilangkan tanggung-jawab negara dalam menyediakan sumber daya air bagi rakyatnya. Bahwa negara terkadang kurang baik dalam menyelenggarakan tata-kelola sumber daya, itu persoalan lain. Tetapi ada banyak bukti yang menunjukkan bahwa negara juga sukses dalam mengelola sumber daya yang terkait dengan kepentingan publik.

Sebaliknya, tidak ada jaminan bahwa swasta akan mengelola lebih baik. Dalam konteks Jakarta, kehadiran swasta tidak berhasil membuat seluruh warga DKI Jakarta bisa mengakses air bersih. Data resmi menunjukkan, baru sekitar 52,13 persen warga DKI Jakarta yang bisa mengakses air bersih. Sisanya masih mengandalkan sumur dan air pikulan. Selain itu, berdasarkan hasil riset Kesehatan Dasar 2010 oleh Kementerian Kesehatan, hanya 18,3 persen warga Jakarta yang memiliki sambungan air perpipaan terlindungi.

Pengelolaan sumber daya air mestinya mengacu pada konstitusi kita: UUD 1945. Dalam pasal 33 UUD 1945 ayat (3) ditegaskan: “Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.”

Merujuk pada pasal tersebut, ada hal yang mesti terpastikan terkait pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya air di Indonesia: pertama, sumber daya air harus dikuasai oleh negara sebagai representasi dari kepentingan umum/rakyat; dan kedua, pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya air harus ditujukan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Sumber Artikel: Berdikari Online

Sengkarut Masalah Budaya (1)

 "....Dan engkau, hei pemuda-pemuda dan pemudi-pemudi; engkau jang tentunja anti-imprialisme ekonomi, engkau jang menentang imprialisme politik; kenapa di kalangan engkau banjak jang tidak menentang imprialisme kebudajaan? Kenapa di kalangan engkau banjak jang masih rock ‘n roll - rock‘n roll-an, dansi-dansian ala cha-cha-cha, musik-musikan ala ngak-ngik-ngok, gila-gilaan, dan lain-lain sebagainja lagi? Kenapa di kalangan engkau banjak jang gemar membatja tulisan-tulisan dari luaran, jang njata itu adalah imprialisme kebudajaan?”
Soekarno

PRESIDEN Soekarno jelas menaruh perhatian penuh pada aspek kebudayaan. Bahkan, sang proklamator ini menempatkan kebudayaan sejajar dengan ekonomi dan politik. Lewat gagasan Trisaktinya, Soekarno menggagas agar kebudayaan negara ini berkepribadian.

“ Republik Indonesia tegas mengeluarkan konsepsi. Pancasila, Manipol Usdek, Berdikari, Trisakti, Nasakom,” kata Bung Karno dalam pidato ‘Ganyang Malaysia’, tahun 1964.

Lewat gagasan kebudayaan yang berkepribadian itulah Soekarno berharap bangsa ini menjadi bangsa yang memiliki karakter, watak, dan kepribadian sesuai dengan warisan leluhur berupa nilai-nilai positif dan keluluhuran budaya yang telah berkembang di masyarakat sebagai warisan nenek moyang.

Bahkan pada era Orde Asli tersebut, Soekarno dengan tegas melarang kebudayaan asing menggurita di Indonesia. Seperti kutipan di awal tulisan ini, Soekarno sangat anti terhadap westernisasi. Bahkan sang presiden menerbitkan Penetapan Presiden Nomor 11/1963 untuk menghadang budaya.

Pelarangan musik dan seni berbau kebarat-baratan itu karena dianggap tidak menunjukkan karakter budaya Indonesia, mengajarkan hura-hura, dan kontra-revolusi. Walhasil, Koes Bersaudara sempat dijebloskan ke dalam tahanan karena dianggap meracuni rakyat lewat music yang berbau The Beatles dan Elvis Presley-nya. Soekarno menyebutnya  music "ngak-ngik-ngok.”

Menilik dari hal tersebut, kebudayaan Indonesia saat ini snampaknya sudah berbalik 180 derajat. Tak hanya akibat jajahan imperialis yang membuat budaya Indonesia semakin kabur. Sistem ekonomi kapitalistik menghantarkan masyarakat Indonesia yang dikenal memiliki budaya komunal (gotong royong) ke ruang sempit individualism. Begitu juga dengan dalam bidang seni, semakin tergerus oleh kebudayaan yang datang dari luar.

Kondisi ini jelas menimbulkan kegelisahan dan keresahan. Budaya Indonesia yang dikenal maskulin menjadi sangat cengeng melalui music dayu-mendayu. Begitu juga dengan tontonan di televisi yang menjadi tuntunan juga menampilkan budaya yang jauh dari orisinalitas budaya Indonesia. Situasi ini turut mengaburkan perbedaan seniman dan penghibur. Apakah mereka yang acap tampil di TV dengan gaya ‘ora jelas’ itu layak disebut seniman?

Menempatkan budaya sejajar dengan ekonomi dan politik, Soekarno nampaknya berharap besar perjuangan akan budaya disejajarkan dengan perjuangan poltik dan perjuangan ekonomi. Lalu perjuangan macam apa yang harus dilakukan oleh para seniman dan budayaan (setidaknya orang yang care dengan budaya Indonesia) saat ini? Apakah mereka harus melakukan petisi untuk menyatakan tolak budaya impor? Atau mereka harus menuntut presiden saat ini untuk meniru Soekarno menerbitkan peraturan khusus?

Bagi penulis sendiri, hal tersebut tidak dirasa urgen. Meski sangat mengidolakan Soekarno, penulis beranggapan, perjuangan budaya bukan masalah bentuk tapi value dari budaya itu sendiri. Tidak begitu perlu menentang bentuk, tapi tentang saja nilai budaya yang jauh bahkan mengancam eksistensi karakter bangsa ini.

Terakhir, penulis ingin mengajakl agar semua insane masyarakat Indonesia yang berprikemanusiaan agar menjadi manusia yang berprikebudayaan. Budaya Indonesia tidak boleh cengeng. Budaya yang harus terus digulirkan adalah budaya yang menentang 3 setan. Budaya anti-kapitalisme, anti-feodalisme, dan anti juga pada militerisme. Dengan budaya tersebut, Indonesia akan menjadi negara yang gagah dengan Trisaktinya. (cho)


Lanjut ke => Sengkarut Masalah Budaya (2)

Suarakan Peristiwa 1965 Lewat Sastra


PEREMPUAN itu sibuk menari-nari di pojok ruangan. Dibukanya rok yang ia kenakan, lalu digantungnya di dinding persis disampingnya saat menari. Ia menari-nari, berlenggok, bak orang yang tak tahu situasi di tengah lilin merah yang menerangi seluruh ruangan.

Makin tak jelas saja, perempuan itu menari tanpa motif. Bergerak bebas, mebuat semua orang yang menyaksikan tariannya tersentak-sentak. Apalagi, saat ia memotong-motong rambutnya dengan sebilah pisau. Rambut indahnya itu, kemudian dibakar menggunakan lilin yang meneranginya saat menari.

Di pojok lain, seorang lelaki sibuk memegang sebuah mayat. Tak jelas jasadnya siapa, entah itu bapaknya, ibunya, istrinya atau temannya. Yang pasti, leher mayat itu telah terlilit seutas kawat. Kawat yang ujung satunya menempel di salah satu tiang itulah yang menjadi alat pencabut nyawa si mayat. Lelaki itu meratap-ratap, hingga air matanya tak bisa lagi keluar, mungkin sudah kering.

“Ahhhh,” desah lelaki lain yang ada di bawah meja. Kepalanya tengah diinjak kaki meja.

Lelaki itu hanya bisa merintih, tak bisa melawan sedikitpun. Hanya meronta-ronta, mendesah. Mau minta tolong juga percuma. Tubuhnya sudah lunglai, kepalanya hampir pecah. Lelaki itu sunggung sudah lunglai tak berdaya. Jangankan untuk melawan,  suaranya saja kalah dengan suara heningnya malam. Giginya sudah dicabuti dengan tang, kepalanya diinjak, tubuhnya disiksa.

Sementara, di meja yang kakinya digunakan untuk menjepit kepala lelaki itu, ada seorang psikopat yang sedang duduk mengintrogasi. Lelaki itulah yang tega menyiksa ketiga tahanan tersebut. Dengan mesin ketik usang, ia sibuk mengetik laporan perihal ketiga tahanan yang ada di ruangannya itu.

“Aku makan ekstasi, inex, biar berani,” terdengar suara alasan kenapa si lelaki pembantai itu tega menjadi pencabut nyawa bak malaikat Izrail. Setelah puas membantai para tahanan, lelaki itu lalu mengambil beberapa lembar karung.

Nampaknya, karung-karung itu akan digunakan untuk memasukkan mayat para tahanan jika nanti mereka mati akibat siksaan. Benar saja, mengenakan kacamata Elvis, topi cowboy dan jaket kulit, ia kemudian menghampiri semua tahanan dan menyarungkan karung ke kepala para tahanan hingga mereka tak bisa bernafas.

****

Begitulah adegan demi adegan performance art yang ditampilkan oleh empat anggota teater ARTeri pada #Reboan Jaker, Rabu (18/2). Grup teater asal Kota Bekasi tersebut menyebut ‘Tukang Kacamata dan Penggemar Elvis’ sebagai judul karya performance art yang terinspirasi dari pembantaian 65 itu.

“Penampilan ini diinspirasi oleh tragedi pembantaian PKI pada tahun 65 lalu. Kita ingin menyuarakan tragedi yang sangat memilukan ini lewat penampilan teater,” kata ketua teater ARTeri, Dendi.

Naskah ‘Tukang Kacamata dan Penggemar Elvis’ sendiri terinspirasi dari film The Act Of Killing (Jagal) dan The Look of Silence (Senyap). Dua film dokumenter garapan Joshua Oppenheimer itu, kata Dendi, berhasil menguak sejarah kelam yang pernah diterima oleh anak bangsa ini. Selain juga, menginspirasi seniman untuk giat mengkampanyekan cerita asli dari tragedi yang menewaskan jutaan rakyat Indonesia itu.

“Film Joshua itu mengajarkan saya betapa kejamnya PKI dibantai. Yang pelajaran itu tidak saya dapatkan di sekolah,” jelasnya.

Sementara itu, Adek Ceeguk yang berperan menjadi perempuan yang sibuk menari dalam performance art ini menjelaskan, perannya itu menyimbolkan betapa sengsaranya para korban tragedi genosida terbesar yang ada di Indonesia tersebut.

“Membakar-bakar rambut itu melambangkan seorang korban sangat frustasi. Masa saya harus (berperan) membakar diri, jadi rambut saja yang saya bakar,” ucapnya.

Ditambahkan oleh Ricky yang menari dengan patung kepala, perannya lebih menonjolkan bagaimana para tahanan atau orang yang tertuduh PKI itu dibantai. “Misalnya, seperti di film Jagal itu, ada yang lehernya dililit oleh kawat hingga mati, dan masih banyak cara membunuh para tahanan dengan sadis,” ungkapnya.

Hal yang senada disampaikan oleh Fidel. Pria yang memerankan tahanan yang kepalanya diinjak oleh kaki meja itu juga menyimbolkan betapa tersiksanya korban 65 akibat siksaan yang diberikan oleh para jagal. Fidel mengakhiri perannya dengan mengambili sampah dan mencuci kaki semua penonton.

“Itu juga saya ambil dari film Jagal. Dimana Anwar Congo (yang menjadi jagal,red) itu, tidak bisa tidur kalau belum membasuh kaki. Karena selalu terbayang-bayang dengan korban yang ia bunuh,” imbuhnya.

Sebelumnya, Ketua Umum Jaringan Kebudayaan Rakyat (Jaker) Tejo Priyono sendiri mengatakan karya teater Arteri ini sangat menghentak dan membuat para penonton terkagum-kagum. Teater Arteri berhasil membungkus sejarah 1965 lewat teater dengan sangat apik. Ia berharap, para seniman Indonesia kedepan lebih aktif membongkar sejarah yang ditutup-tutupi bahkan dimanipulasi oleh penguasa. Hal ini bertujuan agar budaya lama bisa digantikan dengan kebudayaan baru yang anti pada militerisme, feodalisme dan kapitalisme.

“Tragedi 65 itu adalah lautan inspirasi yang luas untuk dunia sastra. Kedepan Jaker juga akan membukukan karya sastra untuk mengenang kembali tragedi ini,” pungksanya. (cho)

Juga dipoting di: berdikarionline

Petik Laut, Bentuk Syukur Rakyat Banyuwangi

POJOK LITERASI - Kapal-kapal berjajar dengan hiasan yang cukup indah, berbagai motif dan nilai seni berpadu disana. Sungguh paduan nilai seni yang tiada tara, wujud dari estetika kelokalan yang  luar biasa indahnya. Tua muda berkumpul menjadi satu, dari semua kampung bersama menyatu menjadi satu berbaur dengan semangat suka cita yang di ekpresikan dengan ungkapan syukur akan nikmat yang dilimpahkan dari alam untuk umat manusia.

Pesta rakyat Petik laut Muncar begitu biasa orang menyebutnya, ya muncar adalah nama salah satu kecamatan yang ada di ujung paling timur pulau jawa tepatnya di kabupaten banyuwangi jawa timur. Tradisi petik laut  sudah ada sejak muncar berkembang menjadi pusat kegiatan penangkapan ikan. Pada mulanya upacara dilaksanakan berdasarkan pranatamangsa, kemudian dilaksanakan setiap bulan Sura sekarang ditetapkan setiap tanggal 15 sura.

Upacara ini bernilai sakral dengan acara puncaknya adalah melarung perahu kecil yang berisi sesaji yang terdiri dari kepala kambing, berbagai macam kue, buah- buahan, pancing emas, candu dan dua ekor ayam jantan yang masih hidup.
Pada malam harinya, di tempat perahu untuk sesaji dipersiapkan dilakukan tirakatan. Di beberapa surau atau rumah diadakan pengajian atau semaan sebelum perahu dilarung, tirakatan berupa doa bersama mempunyai tujuan agar  nelayan dijauhkan dari musibah malapetaka, fitnah, serta diberikan ketentraman dan kemudahan dalam mencari rejeki atau dalam tradisi masyarakat dibanyuwangi sering diungkapkan dengan ungkapan supoyo adoh bilahine, cepak rejekine, slamet sak sobo parane, guyub rukun bebrayane, gampang anggone luru sandang pangan, kalis saking sakabehe sambikolo (supaya dijauhkan dari petaka, di dekatkan rezeki, selalu diberi keselamatan kemanapun kaki melangkah, rukun dalam bermasyarakat, dimudahkan dalam menjacari penghidupan, terhindar dari segala musibah).

Setalah itu paginya  perahu sesaji tersebut diarak diperkampungan, dan kegiatan ini disebut dengan idher bumi. Selanjutnya perahu tersebut dilarung diiringi oleh ratusan perahu nelayan yang dihiasi dengan umbul-umbul. Perjalanan diteruskan ke Sembulungan, ke makan Sayid yusuf, orang pertama yang membuka daerah tersebut. Disinilah biasanya tari gandrung di pentaskan. Sepulang dari sembulungan perahu nelayan yang akan mendarat di guyur dengan air laut yang di gambarkan sebagai guyuran Shang Hyang Iwak, sebagai Dewi laut.

Perhelatan pesta rakyat daerah pesisir di Muncar, Kabupaten Banyuwangi.  sekarang, dipakai juga sebagai satu  wahana budaya dan tradisi masyarakat nelayan di Kecamatan Muncar dampak positif lain saat ini Petik Laut juga menjadi sebuah sarana untuk menggali kembali berbagai potensi lokal seperti kesenian lokal, aneka perlombaan (gerak jalan, panjat pinang, lomba dayung, jalan sehat) yang melibatkan hampir semua lapisan masyarakat di Muncar. Rangkaian kegiatan ini juga disertai pesta rakyat dengan pasar malam dan aneka hiburan seperti dangdut, gandrung tarian tradisional banyuwangi warisan suku osing dan tayub dan budaya lokal lainya.

Petik laut yang dilaksanakan setiap tanggal 15 bulan Suro dalam kalender Jawa ini, tidak sekadar agenda rutin nelayan Muncar tetapi sudah menjadi salah satu aset budaya Kabupaten Banyuwangi. Hampir setiap tahun kegiatan ini selalu menyedot perhatian banyak masyarakat, tidak hanya warga Banyuwangi, tapi juga masyarakat luar daerah. Tentunya ini salah nilai budaya yang harus terus dipertahankan dan diharapkan mampu membarikan manfaat bagi penduduk sekitar atau lebih jauhnya busi menjadi daya tarik wisata di kabupaten banyuwangi. SEMOGA. (edi)

Sepenggal Kisah Buruh Gendong


POJOK LITERASI - Bertarung dengan waktu, memikul beban yang begitu berat, ditengah kepongahan negeri, begitulah hari-hari yang harus dilalui oleh wanita-wanita kekar di Bringharjo tanpa mengenal beban berat di tubuh renta mereka, bahkan sudah terbiasa mengangkat beban sebesar 50kg dari lantai satu pasar Bringharjo ke lantai tiga, semua demi sesuap nasi dan demi kehidupan anak-anak yang lebih baik

Mata selalu tertuju pada mobil-mobil pengangkut sayuran, dan barang-barang. Berharap ada rizki yang datang, meski tubuh mereka rata-rata telah renta mereka tidak peduli, ditengah dingin udara pagi dengan semangat untuk bertahan hidup, dengan bermodal kain selendang yang selalu tergantung di leher, tubuh renta itu berlomba untuk dapat memikul barang dagangan yang pagi itu tiba, meski beban yang di pikul kadang tidak sesuai dengan kondisi tubuh renta mereka, tumpukan sayuran yang rata-rata beratnya 50 kg dengan enteng digendongnya, lalu dengan penuh semangat mereka mengantarkan barang-barang itu kepada para pedagang dengan sebelumnya di timbang diantar menuju timbangan terlebih dahulu.

Begitulah kehidupan setiap hari para buruh gendong di pasar bring harjo, yogyakarta, tubuh-tubuh kekar wanita-wanita paruh baya itu menggantungkan nasibnya pada barang-barang yang datang, dengan perasaan bahagia para wanita paruh baya itu berlarian menuju mobil sayur yang datang.

Seperti diungkapkan oleh Sumiyati (40) salah satu buruh gendong di pasar Bringharjo. Ia menuturkan setiap hari, harus berangkat dari rumahnya pukul 06.30 WIB. "Aku iki mas tiap dino budal neng pasar bring harjo jam pitu kudu wes teko kene, trus engko mulihe jam sekawan sore, yo lek lagi nasib apik iso sedino sampe 10-15 angkatan”, katanya.

Sambil sesekali mendongakan kepalanya berharap ada mobil barang yang datang, ketika saya mencoba menanyakan berapa penghasilanya setiap hari, sumiyati menjelaskan “ yokalekne wae mas, bayarane sekali angkatan bisa 2000 bisa 3000 perak” ya dikalikan saja mas, uang pembayaran dalam sekali mengangkat barang bisa diberi 2000 bisa juga diberi upah 3000 rupiah.

Sebenarnya saat itu sumiyati juga di temani oleh beberapa buruh gendong lain di pasar bring harjo tetapi ketika saya coba menanyakan kepada mereka, para buruh gendong menjawab kurang lebih sama mas nasib kami, begitu seperti diungkapkan ungkapkan Prapti yang diamini juga oleh Tumisri. Sumiyati wanita paruh baya yang sudah mulai kelihatan beberapa uban rambut kepalanya juga ngudo roso bahwa penghasilanya sebagai buruh gendong juga digunakan sebagai penopang hidup keluargannya sehari-hari.

Setali tiga uang dengan nasib yang dialami oleh sumiyati, Boinem (61) wanita tua yang berasal dari Perengkembang, Balecatur Gamping Sleman. Yang juga menggantungkan nasibnya sebagai buruh gendong di pasar bring harjo, meski pun tubuhnya sudah bisa dibilang renta namun mbah boinem tetap menekuni pekerjaanya sebagai buruh gendong, tubuh yang seharusnya harus bersitirahat dengan tenang di rumah sambil menimang cucu namun tetap harus mengais sesuap nasi demi menghidupi anak-anaknya, mbah Boinem harus berangkat setiap hari ke pasar Bring harjo pukul 05.00 WIB dan biasanya baru pulang pukul 16.00 WIB.

Akibat jauhnya jarak ruman Boinem dari pasar Bring harjo, penghasilan yang tidak sebarapa sebagai buruh gendong terpaksa harus dibagi lagi. Menurutnya, pendapatan harian nya masih juga harus dibagi dengan biaya transportasi, dan lumayan bisa melahap jumlah yang cukup besar untuk ukuran kantong boinem Rp 8.000. Sisanya untuk sekolah anak, dan membiayai keluarga. “oalah mas wes aisile saitik gor 20.000 kuwi wae isik dingo ngebes, pulang pergi iso entek wolongewu," sampainya.

Setelah seharian di pasar Bringharjo Yogyakarta, Pojok Literasi kemudian melaju menuju pusat pasar buah dan sayur di Yogyakarta tepatnya di pasar buah giwangan, pasar buah yang berjarak kurang lebih 10 menit berkendaraan sepeda motor dari pasar Bringharjo.

Siang ini terik sekali, cuaca sangat panas sementara suhu udara begitu tinggi. Dengan terus masuk kedalam pasar, akhirnya Pojok Literasi menemui pemandangan yang sungguh bisa membuat mata kita menitikan air mata, di tengah terik matahari tepat di di tengah pasar di tempat biasa para mobil pegangkut buah dan sayur berhenti terlihat kerumunan orang yang sedang menggerubuti sebuah mobil pembawa tomat dan sayur-sayuran serta sebuah mobil pengusung semangka sangat banyak di kerubuti orang.

Namun anehnya bukan pembeli yang mengerubuti beberapa leleki kekar, dan lebih banyak wanita paruh baya yang di lehernya tergelantung selendang, rupanya mereka adalah para buruh gendong di pasar buah dan sayur giwangan yang tengah mengais rizki, meskipun sinar matahari begitu menyengat, dan keringat bercucuran demi makan anak dan keluarganya mereka rela melakukan itu, mereka bukan wanita-wanita yang rela dengan begitu saja keadaan mereka para wanita pejuang sejati.

Ditengah kerumunan tersebut terlihat seorang wanita yang sudah kelihatan berusia diatas 40 tahun dengan tubuh yang begitu kurus terlihat tengah menggendong sekeranjang besar semangka yang mungkin beratnya bisa mencapai 40kg lebih, Yu Narsih biasa teman-teman seprofesi nya sebagai buruh gendong menyebut namanya.

Narsih terlihat begitu letih dan keringat bercucuran di di kening nya, sesekali narsih mengusap keringat-keringat yang terus berjatuhan bagai butir-butir padi itu. Bagaimana Yu penghasilan hari ini Pojok Literasi coba mencari tahu.
"Biasa mas koyo dino-dino biasane, saiki ora terlalu rame, iki mau aku isih ngangkut peng enem ket sak yahene," ucapnnya sambil berjalan Yu Narmi menjawab pertanyaan, dan kembali lagi mengangkut barang-barang dari mobil yang baru datang menurunkan semangka dan tomat. (edi)

Menulis Untuk Melawan


POJOK LITERASI - Mau jadi apa dirimu, maka kamu harus menulis. Begitulah setidaknya disampaikan oleh Putu Oka Sukanta saat menjadi guru dalam kelas menulis yang diadakan oleh Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat (Jaker), di Kantor Percik Jakarta, beberapa waktu yang lalu.

Sastrawan kelahiran Singaraja, Bali, pada 1939 lalu ini menyampaikan hampir semua profesi didapat tanpa tulisan (baca: menulis). Paling tidak, menurutnya, mahasiswa harus menulis skripsi untuk bisa meraih gelar sarjana, thesis untuk gelar master, dan disertasi untuk menyandang gelar profesor.
“Semuanya hanya bisa didapat melalui tulisan. Bahkan serang penulis dikatakan penulis karena ia menulis,” imbuhnya.

Tapi menulis, lanjutnya, bukan hanya untuk meraih gelar. Apalagi hanya untuk mencari uang atau popularitas. Pria yang sempat dipenjara oleh Soeharto karena aktivitas menulisnya di LEKRA ini menegaskan, bahwa menulis adalah sarana efektif untuk berjuang dan melawan penindasan.
“Dengan predikat napol, satu-satunya aktivitas yang saya bisa lakukan adalah menulis. Dari menulis inilah saya menuangkan pemikiran-pemikiran dan gagasan saya untuk melawan penguasa yang menindas,” demikian ucap pria yang pernah menjadi jurnalis ini.

Karena itu, Putu yang juga ahli akupuntur ini yakin bahwa salah satu elemen terpenting untuk menulis adalah memiliki atau ideologi. Ia bahkan tidak percaya, ada penulis yang tidak berideologi atau berpolitik. Semua sastrawan, menurutnya, pasti memiliki ‘way of thinking’ yang tentu sudah hadir di dalam otaknya dan mempengaruhi tulisan-tulisan yang lahir.
“Ada yang ideologinya kapitalis, ada juga yang sosialis. Semua sastrawan pasti punya. Kalau penulis itu bilang tidak suka politik (tidak punya ideologi), berarti itulah politik penulis itu. Saya sendiri menyebut pribadi saya sebagai aktivis penulis dan penulis yang berpolitik,” sambungnya.

Berlandaskan ini, Putu yang karyanya banyak diterjemahkan ke berbagai bahasa ini mengajak semua orang untuk mulai mencintai dunia penulisan. dan menjadikan politik sebagai panglima dalam aktivitas tulis. Sehubungan dengan wawasan “politik adalah panglima” itu, ia mencatatkan apa yang di lingkungan LEKRA kemudian dikenal dengan kombinasi satu lima satu (1-5-1).

Kombinasi yang dimaksud Putu ini ialah, ‘Meluas dan Meninggi’, ‘Memadukan Tradisi yang Baik dengan Kekinian Yang Revolusioner’, ‘Tinggi Mutu Artistik, Tinggi Mutu Ideologi’, ‘Memadukan Realisme Revolusioner dengan Romantisme Revolusioner’ dan ‘Memadukan Kreativitas Individual dengan Kearifan Massa.’
“Untuk melaksanakan 5 kombinasi ini harus melalui cara turun ke bawah (bergabung dengan masyarakat-red),” jelasnya.

Dengan kombinasi ini pula, ia menyimpulkan tugas pengarang selain menjadikan tulisan atau karangan untuk melakukan penyadaran (disamping juga menjadi media hiburan dan edukasi), adalah menggali serta mengungkapkan esensi di belakang fenomena. Dicontohkannya, bila ada buruh demo,  seorang penulis mungkin bisa menulis dampak dari demo semisal macet, orang tidak bisa berangkat kerja dan lainnya. “Tapi bagi orang yang bisa menggali, dia akan menulis bahwa buruh demo karena lapar. Titik itu, bukan main-main orang turun ke jalan. Penulis harus menggali fenomena, bukan hanya melihat kulit kejadian saja. Kalau hanya melaporkan, itu tugasnya jurnalis,” ujarnya.

Pada kesempatan itu, pria yang sudah menulis puluhan buku ini mengungkapkan keprihatinannya atas minat orang, termasuk aktivis, untuk menulis. Ia membantah anggapan menulis itu susah, dan jamaknya orang yang enggan menulis dengan alasan tak punya bakat.
“Kedua orang tua saya buta aksara. Kalau menulis karena bakat, berarti saya tidak akan jadi penulis,” katanya.

Selain itu, ia mengaku bukan seorang lulusan fakultas sastra yang berarti penulis tak harus jebolan bangku sastra. Tapi, diakuinya pendidikan sastra luar sekolah melalui komunitas atau perseorangan bisa jadi cukup berperan dalam aktivitas penulisannya.
“Mayoritas penulis yang saya temui malah bukan berasal dari fakultas sastra. Mayoritas dari mereka juga mulai menulis pada usia muda atau golden era,” sampainya.

Lalu apa saja langkah dan jurus untuk bisa menulis? Putu menerangkan, tulisan harus dimulai dari hal (obyek) terdekat dengan kehidupan pribadi. Pasalnya, sesuatu yang dekat dengan kehidupan pribadi akan lebih mudah untuk ditulis daripada obyek jauh, terlebih obyek yang  tak pernah dilihat penulis.

Secara subyek, lanjutnya, menulis harus dijadikan sebagai aktivitas yang menyenangkan. Menumbuhkan minat untuk menulis dimana saja dan kapan saja juga sangat penting, sepenting kemampuan menggunakan kemampuan berkhayal. Dilanjutkan dengan tidak takut gagal dan penggunaan gaya bahasa yang indah agar tulisan bisa diterima (enak dibaca orang).
“Pendukungnya, pelajari beberapa teori semisal teori pengembangan tokoh (personifikasi). Ini bisa didapat dengan membaca atau mempelajari teori sastra kreatif,” tambahnya.

Dia juga menjawab jamaknya calon penulis yang bingung menentukan darimana memulai tulisan sastra kreatif. Dikatakan Putu, pemilihan pintu masuk bisa dipilih dari masa lalu, masa kini dan masa depan. Terpenting, menurutnya, pembukaan harus memikat dan melahirkan rasa ingin tahu pembaca.
“Untuk penutupnya, harus mengejutkan atau memberikan surprise. Caranya adalah menyisakan pertanyaan pembaca. Sehingga, orang akan teradiksi untuk terus membaca tulisan kita,” tutupnya. (cho)



Reposted From: BerdikariOnline